Rabu, 13 September 2017

Menghadirkan Kebahagiaan untuk Anak-anak di Restoran Pizza

Bermain adalah takdir anak-anak dan bahagia adalah hak mereka. Berkumpul bersana dengan teman sebaya, asyik dengan mainan, berlarian sambil tertawa riang, semuanya adalah simpul kebahagiaan anak-anak dalam dunianya yang bebas. 
Anak-anak dan relawan Museum Kolong Tangga memulai permainan di Nanamia Pizzeria (dok. pri).
Kebahagiaan dalam kebebasan itulah yang diciptakan pada Jumat (8/9/2017) sore itu. Sekitar lima belas orang anak berkumpul di taman di dalam area Restoran Nanamia Pizzeria, Jalan Tirtodipuran, Yogyakarta. Dua di antara anak-anak tersebut adalah Jamme dan Kale, putra penyanyi top Rio Febrian yang sore itu ditemani ibu mereka, artis Sabria Kono. Pasangan selebritis ini memang telah memutuskan menetap di Yogyakarta.

Dipandu oleh relawan Museum Kolong Tangga, anak-anak mengikuti workshop kreatif selama kurang lebih dua jam. Acaranya dimulai dengan permainan interaktif. Para relawan dan anak-anak berkumpul membentuk lingkaran. Tapi sebelum itu para relawan harus berkeringat lebih dulu untuk mengumpulkan anak-anak yang terlanjur asyik sendiri di berbagai sudut restoran. Ada juga anak yang enggan jauh dari orang tuanya. 

Relawan kemudian mengajak semuanya saling mengenalkan diri. Meski setiap anak dan para relawan memakai name tag di bajunya, tapi semua harus menyebutkan nama masing-masing. 

Sesuatu yang lucu terjadi saat perkenalan. Seorang anak tiba-tiba berkata, “aku mau pipis!”, dan langsung berlari keluar dari lingkaran. Seperti ada gerakan “solidaritas”, beberapa anak lainnya mendadak ikut-ikutan dan saling menyahut, “aku juga mau pipis…aku juga…aku juga!”. Para relawan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat lingkaran yang telah dibentuk kembali bubar untuk beberapa saat. Tapi hal itu bukan masalah karena memang begitulah dunia anak-anak yang “bebas”.
Artis Sabria Kono yang juga istri penyanyi Rio Febrian menyaksikan dua anaknya yang sedang bermain (dok. pri).
Membuat adonan kue dan membentuknya menjadi aneka rupa (dok. pri).
Meskipun demikian, dalam kebebasannya anak-anak tetaplah pribadi yang mudah disentuh hatinya dengan pendekatan yang benar. Itulah yang dilakukan para relawan sehingga bisa membuat anak-anak itu kembali menurut untuk membentuk lingkaran.

Dalam lingkaran, anak-anak mendengarkan cerita yang disampaikan oleh seorang relawan. Sesekali anak-anak menyahut saat mendengar cerita yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan. Mereka juga antusias saat mendapat sebuah instruksi. Misalnya, instruksi untuk mendekat ke teman yang berbaju pink atau bergaya mengikuti gerakan tertentu.

Menjelang pukul empat sore, anak-anak berpindah tempat. Kali ini mereka duduk di sudut taman tepat di bawah pohon yang teduh. Mereka diajak untuk bermain adonan tepung terigu yang telah disediakan di beberapa wadah. 

Mula-mula mereka diajari memadatkan adonan dengan menambahkan air dan minyak dalam jumlah tertentu. Kemudian adonan dibagi menjadi beberapa bagian yang lebih kecil. Saat relawan menyebutkan adonan boleh dibuat berbentuk buah-buahan, anak-anak itu semakin heboh. Instruksi agar menambahkan pewarna sedikit demi sedikit seolah angin lalu. Akibatnya beberapa anak harus mendapati tangan mereka kotor dan berlumuran warna. Namun, hal itu tampaknya tidak dipedulikan mereka yang tetap asyik membentuk adonan-adonan dan mewarnainya.
Suasana di kids corner (dok. pri).
Ekspresi bahagia terlihat di wajah anak-anak sepanjang acara berlangsung. Terutama saat bermain adonan kue. Semakin lama semakin mereka terlihat antusias. Bahkan ketika ada orang tua yang memberi masukan untuk mewarnai dengan warna tertentu, sang anak justru tetap kukuh dengan warna pilihannya sendiri. Kreativitas mereka seolah berkuasa sore itu.

Bermain adonan kue memang salah satu cara untuk melatih kreativitas anak. Dengan membuat adonan sendiri dan membentuknya sesuai selera, anak-anak diajak untuk mengembangkan imajinasinya. Workshop juga menjadi cara jitu untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan pada diri anak-anak. Misalnya, mereka diperkenalkan tentang kebersamaan dan berbagi dengan bergantian menggunakan peralatan yang ada.

***
Acara workshop dan permainan kreatif ini adalah bagian dari perayaan 10 Tahun Nanamia Pizzeria, restoran yang menyuguhkan berbagai hidangan Italia di Yogyakarta. Tomi Syafrudin selaku marketing Nanamia Pizzeria menyebutkan bahwa workshop dan permainan kreatif merupakan bagian dari komitmen Nanamia Pizzeria dalam mendukung kegiatan pendidikan informal di luar sekolah bagi anak-anak. Oleh karena itu, Nanamia Pizzeria tidak hanya sekali menyelenggarakan workshop. “Sejak 2015 kami sudah membuat workshop. Biasanya setiap dua minggu sekali”, tegas Tomi.

Untuk menyelenggarakan workshop, Nanamia menggandeng komunitas-komunitas kreatif di Yogyakarta. Salah satunya adalah Museum Kolong Tangga yang memfasilitasi workshop permainan anak. 

Menurut Tomi, ide awal menyelenggarakan workshop dan permainan kreatif untuk anak-anak tak lepas dari masukan para pelanggan setia mereka yang menginginkan nilai tambah saat berkunjung. Usulan tersebut disambut oleh pengelola karena banyak dari pengunjung merupakan keluarga muda. Kebetulan pula restoran Nanamia Pizzeria di Tirtodipuran memiliki halaman yang lega. Halaman itulah yang kemudian ditata menjadi taman sekaligus tempat makan out door.

Nanamia Pizzeria juga menambahkan kids corner sederhana di sudut ruang makan. “Jadi saat orang tua memesan dan menunggu makanan, anak-anaknya bisa dialihkan bermain di kids corner”, kata Tomi.
10 Tahun Nanamia Pizzeria (dok. pri).
Sejak pertama kali diadakan, workshop dan permainan kreatif untuk anak-anak disambut baik oleh para pengunjung, khususnya orang tua. Meski untuk mengikutinya dikenakan biaya mulai dari Rp40.000 per anak, tapi banyak yang meminati. Hanya karena keterbatasan ruang maka jumlah pesertanya pun dibatasi.


Bagi Nanamia Pizzeria, workshop untuk anak-anak bukan sekadar untuk menarik perhatian pengunjung. Menciptakan kebahagiaan sesungguhnya bagian yang tak terpisahkan dari tradisi kuliner, dan anak-anak adalah pihak yang paling membutuhkan kebahagiaan itu.

Senin, 04 September 2017

[31ThnKAHITNA] #CeritaSoulmate 4: Cerita Cinta dari Bali

Namaku Mestia, tinggal di Bali dan masih bersekolah di SMK. Jatuh hatiku pada KAHITNA terjadi saat masih SD gara-gara “menguping” Ibu saat sedang nyanyi lagu Cerita Cinta. Saat itu sih aku nggak tahu apa itu cinta, hihihi. Menginjak SMP kelas 2 baru aku bisa menghayati lagu Cerita Cinta itu (berarti sudah ngerti cinta ^^). 

Ngomong-ngomong tentang lagu KAHITNA, lagu yang paling dalem banget menurutku adalah Aku, Dirimu, Dirinya. Yah, mau bagaimana lagi. Lagu itu pas banget dengan perasaanku (maaf jadi curhat). Tapi lambat laun aku merasa semua lagu KAHITNA sama dalamnya.
Batik KAHITNA (dok. Hendra Wardhana).

Aku pertama kali nonton KAHITNA pada acara di sebuah kampus swasta di Bali, 28 Januari 2017 lalu. Saat itu aku mengumpulkan uang saku sekolah selama beberapa hari. hingga akhirnya bisa membeli tiketnya. Tapi itu pun belum mulus mengantarkanku ke pertunjukkan KAHITNA. Masih ada izin dari Ibu yang harus aku upayakan.

Sejak awal aku tidak yakin akan diizinkan menonton musik malam hari. Tapi aku nekat. Diam-diam aku memesan tiket tanpa memberi tahu Ibu. Saat tiket sudah dibayar aku pun belum jujur kepada Ibu. Beberapa hari kemudian baru aku memberi tahu Ibu jika aku sudah membeli tiket KAHITNA. Dugaanku ternyata benar. Ibu tak memberikan izin.

Sedih, tapi aku tak menyerah. Sehari sebelum pertunjukkan aku menulis surat “permohonan” kepada Ibu agar diizinkan menonton KAHITNA. Kemudian surat itu aku letakkan di atas tas miliknya karena aku tak berani memberikannya secara langsung.

Hingga hari pertunjukkan izin yang kuharapkan belum juga kudapatkan. Aku pun mulai menyiapkan hati untuk kecewa. Kemudian jam lima sore Ibu  bertanya, “Jadi nonton KAHITNA?”. Aku menjawab singkat setengah putus asa, “Emangnya boleh?”. 

“Katanya udah pesen tiket, kan kasian uangnya. Ibu juga pengen nonton”. Aku tak mengira Ibu akan menjawa seperti itu. Ia mengizinkanku menonton KAHITNA. Bukan itu saja, ia malah  mau menemani nonton KAHITNA. Yes!!. Jangan-jangan sejak awal Ibu juga ingin nonton KAHITNA, hanya saja gengsi ketahuan anaknya ini. Masa ibu sama anak punya idola yang sama, ihihihi.

Akhirnya kesampaian juga nonton KAHITNA. Kenangan pertama kali itu benar-benar sangat membekas. Seperti lagu MANTAN TERINDAH, “yang telah kau buat sungguhlah indah buat diriku susah lupa”. Apalagi saat itu aku merasa dilihatin dan didadain sama vokalis KAHITNA (GR banget gini?!). 

Di balik itu semua, ada cerita menarik yang aku anggap sebagai berkah dari Tuhan. Hari saat aku menonton KAHITNA menurut kalender adat Bali adalah hari “kelahiran” untukku atau yang disebut “Hari Otona”. Menurut kepercayaan orang Bali, di Hari Otona itu aku tidak boleh bepergian jauh dan harus melakukan upacara. 

Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain. Saat itu aku kedatangan “tamu bulanan" sehingga tidak boleh melakukan upacara. Jadilah aku bisa pergi menonton KAHITNA. Inilah yang aku maksud berkah dari Tuhan.

Menjadi soulmateKAHITNA juga berkah bagiku. Kenapa? Karena rasanya beruntung punya idola seperti KAHITNA yang baik dan nggak sombong meski sudah sangat terkenal. Bertemu dengan sesama penggemar KAHITNA juga menyenangkan. Seperti teman atau saudara yang langsung akrab. Padahal belum tentu saling tahu namanya. 

Harapanku sederhana saja. Semoga KAHITNA semakin sukses, panjang umur dan always humble. I Love You KAHITNA. Jangan pernah berakhir cerita cinta kita, ya…

***
cerita soulmate #1 di sini
cerita soulmate #2 di sini
cerita soulmate #3 di sini



Selasa, 29 Agustus 2017

Mayciska, Pelajar Jogja Ini Mampu Membaca Super Cepat!

Pembawaannya tenang dan kalem. Sambil duduk tangannya terus membuka halaman-halaman buku yang sedang dibacanya. Pandangan matanya menyapu setiap halaman buku dengan arah dari atas ke bawah.
Avindra Salma Mayciska (dok. Hendra Wardhana).
Avindra Salma Mayciska menarik perhatian saya pada Festival Literasi Gramedia 2017 (Literasi Jogja Istimewa) yang diselenggarakan di Kota Yogyakarta pada Minggu (20/8/2017) pagi. Caranya membaca buku tidak seperti kebanyakan orang. Dalam sekejap ia bisa berpindah halaman demi halaman. Matanya seperti alat pemindai kalimat yang bekerja cepat merekam informasi.

Mayciska memang memiliki kemampuan istimewa dalam hal membaca. Dalam waktu 10 menit ia mampu melahap hingga 100 halaman buku dan menangkap isinya. 

Karena ingin membuktikan secara lebih jelas, saya menginterupsinya saat sedang asyik membaca. Saya menyodorkan buku lain milik saya sendiri dengan anggapan Mayciska belum pernah membacanya. Kepadanya saya juga meminta untuk menceritakan isi buku tersebut.

Pelajar yang saat ini duduk di kelas 8 MTS Ummul Quro, Sleman, DIY itu menerima tantangan saya. Ia meletakkan bukunya dan meraih buku yang saya berikan. Judulnya “Melawat ke Timur, Menyusuri Semenanjung Raja-raja”.

Mayciska langsung melahap buku tersebut. Dari halaman pertama hingga seterusnya ia memperlihatkan kemampuannya membaca dengan cepat. Bacaannya beralih dari satu halaman ke halaman lain dalam waktu yang relatif singkat.

Hal lain yang juga menarik adalah caranya menuntaskan setiap halaman buku, yaitu dengan mengarahkan pandangan dari atas ke bawah. Telapak tangannya pun ikut bergerak mengusap setiap halaman buku dengan arah mengikuti pandangan matanya. 

Tak ada ketegangan dalam wajahnya. Ia justru terlihat biasa saja selagi tangan dan matanya bekerja dengan cepat. Mayciska melakukan semua itu secara konsisten hingga halaman terakhir. Ketika mengulang lagi membaca buku tersebut, ia masih memperlihatkan kebiasaan yang sama.

Tak berapa lama kemudian Mayciska memberi isyarat bahwa ia sudah selesai membaca buku milik saya yang jumlah halamannya mencapai 180. Saya lalu mempersilakan ia menceritakan isinya sebagai bukti bahwa kecepatannya dalam membaca buku berbanding dengan kemampuannya menangkap isinya.

Dengan percaya diri Mayciska pun bercerita. Ia menyebutkan latar belakang penulis buku tersebut. Meski tidak terlalu panjang, tapi ia mampu meringkas isi utama buku yang baru dibacanya. Mulai perjalanan penulis hingga kisah-kisah yang tertuang dalam buku.

Mayciska belajar teknik membaca cepat sejak setahun terakhir. Dengan dorongan dari orang tua, ia yang awalnya tidak suka membaca, mulai mencoba belajar membaca secara efektif agar bisa menguasai dan menghafal buku-buku pelajaran sekolahnya.

Hasilnya, prestasi belajarnya melesat. Padahal, ia sebelumnya bukan termasuk murid yang menonjol. Membaca cepat telah membantunya dalam menghafal materi buku-buku pelajaran kecuali buku matematika. Membaca cepat juga meningkatkan konsentrasinya sehingga ia tidak mudah terpengaruh oleh gangguan dari luar ketika sedang membaca.

Suatu hari Mayciska dan orang tuanya pernah dipanggil oleh pihak sekolah untuk menjelaskan bagaimana ia bisa meningkatkan prestasi belajarnya dengan cepat. Ia lalu diminta untuk membaca buku tebal milik gurunya dan memperlihatkan caranya membaca.

Menariknya, kini Mayciska tetap membaca dengan cara cepat meski buku yang dibacanya bukan buku pelajaran. Ia pun mengaku jika membaca cepat membuatnya semakin gemar membaca buku. Setiap hari Mayciska menyempatkan diri membaca dua buah buku. “Saya suka buku non fiksi dan juga fiksi”, katanya di ujung perbincangan kami pagi itu.


Selasa, 01 Agustus 2017

Kreativitas Budi di Balik Kerajinan Cenderamata Kayu dari "Kaki Langit" Mangunan

Rumah sederhana milik Budi di Dusun Mangunan, Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, itu tidak terlalu mencolok. Bentuknya hampir sama dengan rumah-rumah lain di sekitarnya. Ukurannya juga tidak terlalu besar. Namun, jika masuk ke dalam rumahnya atau menengok  halaman belakangnya, baru akan diketahui bahwa rumah tersebut adalah “pabrik” kerajinan dan cenderamata berbahan kayu. 
Budi sedang membuat mainan yoyo.

Budi menamai rumah produksinya itu dengan “Gesang Art”. Jika anda pernah membeli miniatur mobil, sepeda motor atau becak dari sebuah toko cenderamata di daerah wisata, atau suka mengkoleksi benda-benda kerajinan berbahan kayu di rumah, bisa jadi benda-benda itu berasal dari sini.

Sabtu (18/6/2017) sore itu Budi menunjukkan bagian belakang rumahnya yang menjadi tempat produksi Gesang Art. Banyak potongan kayu berukuran kecil dan serbuk kayu menumpuk di sana. Selain itu, ada seperangkat mesin bubut dan peralatan lainnya yang terlihat kokoh.

Mesin-mesin itulah yang digunakan oleh Gesang Art untuk membuat cenderamata dan kerajinan dari kayu seperti miniatur kendaraan, gelang, kalung, gantungan kunci, ketapel, yoyo dan lain-lain. 
Bagian belakang rumah dimanfaatkan sebagai tempat produksi.

Budi lalu mencontohkan bagaimana ia membuat kerajinan dengan mesin-mesin tersebut. Mula-mula ia mengambil kayu berukuran kecil dan memotongnya menggunakan mesin pemotong. Setelah itu ia menghidupkan mesin lainnya dan mulai membentuk yoyo dari potongan kayu. Meski wajahnya serius, tapi tangannya terlihat santai dan cekatan menyesuaikan posisi potongan kayu pada mesin. 

Hanya kurang dari 15 menit, potongan kayu yang semula tak berbentuk sudah berubah menjadi yoyo. Nantinya yoyo tersebut masih perlu dihaluskan dan dicat sehingga siap dipasarkan atau dimainkan.

Budi sudah menekuni usaha kerajinan kayu sejak tahun 2002. Awalnya ia hanya mengikuti jejak sang ayah. Tapi kemudian ia semakin mantap untuk mengembangkan diri dan kreativitas dengan membuat aneka kerajinan kayu.

Bersama Gesang Art, pria 35 tahun tersebut mampu membuat aneka macam kerajinan kayu sebagai cenderamata. Ukurannya mulai dari yang kecil hingga yang besar. Mulai dari yang bentuknya sederhana hingga yang berdesain rumit. 

Gesang Art memproduksi kerajinan kayu berdasarkan pesanan maupun atas inisiatif sendiri untuk dipasarkan. Bahan kayu yang digunakan juga mengikuti permintaan konsumen atau menyesuaikan kayu yang diterima. Semua bisa disesuikan oleh Budi. Tapi menurutnya pemesan dari kalangan perusahaan biasanya memesan produk kerajinan kayu yang ukurannya besar dengan desain khas yang berbeda dengan produk massal.
Sebagian kerajinan kayu yang dibuat oleh Budi dan Gesang Art.
Miniatur mobil, vespa dan becak produksi Gesang Art.

Untuk menjalankan Gesang Art, Budi merekrut tiga orang pekerja. Namun, seringkali ia menambah  jumlah pekerjanya saat mendapat banyak pesanan.

Kini produk Gesang Art sudah dipasarkan hingga ke luar daerah. Beberapa pelanggannya berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta. Bahkan, akhir-akhir ini Budi cenderung memasarkan produk Gesang Art untuk pasar luar Yogyakarta. 
Gesang Art juga membuat cenderamata berupa gelang, kalung, gantungan kunci, figura dan sebagainya.

Meskipun demikian, benda-benda kerajinan dan cenderamata buatan Gesang Art tetap bisa dijumpai di Yogyakarta, terutama di obyek-obyek wisata di daerah Mangunan. Apalagi, sejak dikembangkannya Desa Wisata Kaki Langit Mangunan pada 2014. Produk Gesang Art melengkapi  daya tarik desa wisata tersebut. Budi menyediakan beberapa cenderamata dan benda kerajinan di rumahnya agar wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Kaki Langit bisa langsung membeli dari Gesang Art. 

Meski stok yang disediakan tidak terlalu banyak karena diutamakan untuk memasok pesanan dari luar daerah, tapi Budi memberikan harga yang lebih murah kepada wisatawan yang datang langsung ke Gesang Art. Mainan berupa miniatur mobil, becak dan sepeda motor dijual hanya seharga Rp15000 setiap buahnya. Padahal di toko oleh-oleh dan cenderamata, produk tersebut biasa ditawarkan dua hingga tiga kali lipatnya. 

Sebuah mainan Yoyo di Gesang Art juga dijual Rp2500 per buah. “Iya memang segitu harganya di sini. Kalau sudah di luar jadi berapa saya tidak tahu pastinya”, jawabnya menegaskan harga cenderamata buatan Gesang Art.
Budi dan beberapa produk Gesang Art.
Sayangnya saat ini Budi belum tertarik memanfaatkan media sosial dan internet untuk mempromosikan produk-produk kerajinan dan cenderamata Gesang Art. Umumnya pembeli dan pelanggan produk Gesang Art datang atau menghubunginya secara langsung. Padahal, dengan teknologi tersebut bukan tidak mungkin pasar yang bisa dijangkau semakin luas dan nama Gesang Art bisa lebih dikenal.



Jumat, 28 Juli 2017

Menjelajah Botania Garden Seluas 13 Hektar di Purbalingga

Sederet tempat menarik telah berkembang di Purbalingga dalam beberapa tahun terakhir. Saat musim liburan tempat-tempat tersebut diserbu wisatawan yang datang tidak hanya dari sekitar Purbalingga, tapi juga dari luar kota dan provinsi. Bukan hal yang kebetulan pula jika kini semakin banyak bus-bus AKAP yang sebelumnya hanya mencapai Purwokerto memperpanjang rutenya hingga Purbalingga.
Botania Garden alias "Bogar" di Purbalingga (dok. Hendra Wardhana).

Sejumlah obyek wisata yang terus bermunculan di Purbalingga melengkapi line up obyek wisata lain yang sudah lebih dulu berkembang. Salah satu yang paling anyar adalah “Botania Garden” atau “Bogar”.

Sesuai namanya, Botania Garden yang berlokasi di Desa Karangcengis, Kecamatan Bukateja, merupakan kebun buah-buahan. Kebun-kebun tersebut milik para petani lokal yang kemudian dikelola oleh kelompok masyarakat setempat sebagai destinasi wisata. 

Botania Garden yang luasnya 30 hektar ini secara resmi diluncurkan pada libur lebaran 2017. Namun, tempat ini sebenarnya sudah dibuka  untuk umum sejak Maret 2017.
Tiket masuk Botania Garden (dok. Hendra Wardhana).

Pematang sekaligus jalan di antara kebun-kebun buah (dok. Hendra Wardhana).

Botania Garden bisa dicapai dengan menempuh perjalanan sejauh 17 km dari pusat Kota Purbalingga. Meski jaraknya lumayan jauh, tapi tidak sulit untuk menuju ke sana. Setidaknya itu yang saya dan keluarga rasakan saat berkunjung ke sana dengan bantuan aplikasi google maps beberapa waktu lalu.

Perjalanan cukup lancar melalui Jalan S. Parman di timur alun-alun Kota Purbalingga. Sesampainya di pertigaan Bojong, kami melintasi Jalan Bukateja-Klampok yang dilanjutkan melewati Jalan Argandaru di Bukateja. Saat mencapai perempatan Kembangan, kami berbelok ke timur menyusuri Jalan Raya Lengkong. Tepat di pinggir jalan raya tersebut, sebuah gardu dan spanduk besar bertuliskan Bogar menjadi penanda bahwa kami telah sampai di Botania Garden.

Tak jauh dari tempat parkir kendaraan yang masih memanfaatkan ruang-ruang kosong di antara rumah-rumah warga, terdapat pintu masuk Bogar. Di sana kami membeli tiket seharga Rp5000 untuk satu orang.  Rupanya harga tiket tersebut sudah termasuk minuman rasa buah merek terkenal yang dibagikan sebagai bekal saat menyusuri kebun. Di tempat pembelian tiket ini kami juga meminjam caping yang disediakan secara gratis untuk wisatawan.
Kebun buah manis (dok. Hendra Wardhana).

Jeruk yang siap dipetik (dok. Hendra Wardhana).

Jambu biji (dok. Hendra Wardhana).

Kami pun melanjutkan berjalan kaki menyusuri jalan setapak berupa tanah dan kerikil. Meski sinar matahari terasa terik, tapi pemandangannya cukup indah. Kebun-kebun berpagar bambu berjejer di kanan dan kiri. Langit biru dan awan yang berserakan menciptakan pemandangan yang kontras dengan hamparan hijau kebun buah. Sementara angin yang bertiup pelan sesekali memutar baling-baling bambu yang ada di beberapa ruas jalan menuju kebun.

Saat itu beberapa kebun pintunya masih tertutup karena pohon di dalamnya belum berbuah. Tapi kebun-kebun lain terlihat menggoda dengan buah-buahan yang menggantung. Kami pun memilih masuk ke sebuah petak kebun jeruk yang pintunya terbuka. Ternyata di sana sudah ada beberapa wisatawan lain yang sedang memetik jeruk ditemani penjaga kebun.

Botania Garden menawarkan pengalaman wisata memetik buah secara langsung dari pohon di kebun petani. Wisatawan bisa berkeliling sambil memilih buah-buahan yang ingin dipetik. Jika tidak cocok, bisa berpindah ke kebun lainnya. 

Beberapa tanaman buah yang ada di Botania Garden adalah jeruk, jambu biji kristal, jambu biji merah, jambu air, kelengkeng, dan belimbing. Dari semua buah-buahan tersebut, jeruk yang paling mendominasi karena sejak dulu buah ini merupakan produk unggulan Desa Karangcengis.

Kebetulan kebun yang kami masuki adalah kebun jeruk manis. Buahnya tidak terlalu besar dan pohonnya tidak terlalu tinggi sehingga saat berjalan kami harus sering membungkuk. Sementara jeruk-jeruk yang kulitnya mulai menguning bergelantungan seolah meminta untuk dipetik. 

Buah-buahan yang telah dipetik kemudian dikumpulkan dan ditimbang di dalam kebun. Wisatawan perlu membayar buah-buahan tersebut karena tiket masuk sebelumnya bukan biaya untuk berbelanja buah. 

Meski demikian kami puas karena harga buah-buahan dari kebun petani di Botania Garden jauh lebih murah dibanding harga di pasaran. Satu kilogram jeruk misalnya, bisa didapatkan dengan harga Rp10000. Padahal, di luar harganya bisa mencapai Rp20000. Di Botania Garden kami juga mendapatkan buah yang lebih segar dan kondisinya lebih baik.

Satu jam lebih di dalam kebun jeruk, kami memutuskan menyudahi jalan-jalan di Botania Garden meski sebenarnya masih ingin menengok kebun-kebun buah lainnya. Beruntung di sekitar tempat parkir kendaraan banyak penjual menjajakan buah-buahan yang juga berasal dalam kebun Bogar. Walau harganya sedikit lebih mahal dibanding jika memetiknya secara langsung di kebun, tapi masih bisa ditawar. Dari seorang penjual, kami  pun bisa mendapatkan dua kilogram jambu biji kristal dengan harga yang murah.
Wisatawan membayar buah yang telah dipetik (dok. Hendra Wardhana).

Landskap di Botania Garden (dok. Hendra Wardhana).


Sekalipun menarik, ada satu kekurangan yang harus segera dibenahi di Bogar, yaitu kurangnya informasi tentang jenis buah dan petak kebun yang siap panen. Petugas tiket yang saya tanyai tidak bisa memastikan buah yang sudah bisa dipetik dan di kebun mana saja wisatawan bisa mendapatkannya. Padahal, informasi tentang jenis buah yang bisa dipetik dan kebun yang sedang berproduksi ini sangat penting agar wisatawan tak kehilangan banyak waktu saat menjelajah Bogar. Oleh karenanya, wisatawan perlu mengintip kebun satu per satu atau bertanya kepada wisatawan lain yang baru keluar dari kebun.

Cerita Populer

BERANDA