Senin, 13 November 2017

Inovasi "Smart Tourism" untuk Memacu Kota Cerdas Yogyakarta

Dalam beberapa tahun terakhir Indonesia kian gencar mengembangkan kota cerdas atau smart city. Setelah menetapkan beberapa kota utama sebagai rintisan kota cerdas, kini pemerintah menginisiasi 100 kota cerdas di berbagai daerah. Pemerintah melalui Bappenas mengerahkan Kementerian Komunikasi dan Informasi, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta Kementerian Koperasi dan UKM, untuk melaksanakan program tersebut.

Suasana di sekitar Tugu Pal Putih di Kota Yogyakarta yang dipadati oleh wisatawan.
Kota Cerdas memang menjadi pilihan rasional untuk menghadapi tantangan zaman, sekaligus sebagai solusi atas permasalahan kota dan penduduknya yang semakin kompleks. Prinsip kota cerdas adalah tercapainya kenyamanan dan keamanan kehidupan kota beserta penduduknya melalui pembangunan yang efektif dan berkelanjutan. Kota cerdas menempatkan inovasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai elemen penting untuk mengatasi permasalahan serta meningkatkan kualitas kehidupan bersama.

***
Yogyakarta adalah salah satu kota yang sejak awal diharapkan mampu menjadi kota cerdas. Kota utama di Daerah Istimewa Yogyakarta ini dianggap memiliki modal yang cukup untuk mentransformasikan gagasan kota cerdas ke dalam bentuk nyata kehidupan kotanya.

Sayangnya, hingga sekarang transformasi Yogyakarta sebagai kota cerdas belum memuaskan. Dalam aspek tertentu Yogyakarta memang tampak sedang menuju kota cerdas. Misalnya melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam sistem pemerintahan. Tapi itu saja belum cukup untuk membangun kota cerdas. Keterbukaan informasi pemerintahan dan pelayanan online hanya satu bagian kecil dari indikator kota cerdas.

Di luar aspek pemerintahan tersebut, kota cerdas Yogyakarta bisa dikatakan masih samar. Jika ditanyakan kepada masyarakat Yogyakarta, barangkali banyak jawabannya justru berupa pertanyaan balik tentang bagaimana kota tempat mereka tinggal akan menjadi kota yang cerdas.

Pada saat yang sama, permasalahan yang membelenggu Yogyakarta dirasakan semakin pelik sehingga mengurangi kenyamanan kota. Masalah kemacetan, keamanan, hingga pembangunan yang dikritik kurang berwawasan pada penataan kota dan ruang publik yang baik, semua itu bertolak belakang dengan semangat kota cerdas. Dengan kata lain, Yogyakarta sebenarnya masih memiliki pekerjaan berat untuk mewujudkan kota cerdas.

Mengapa bisa demikian? Apa yang menahan laju Yogyakarta untuk menjadi kota cerdas? 

Perlu ditekankan bahwa meski kota cerdas merupakan program nasional, tapi kunci utamanya terletak pada komitmen setiap daerah dan pemimpinnya. Komitmen itu bisa dinilai antara lain dengan menyiapkan rancangan atau konsep kota cerdas yang tepat. Terkait kota cerdas Yogyakarta yang masih samar, barangkali disebabkan oleh belum jelasnya konsep kota cerdas ala Yogyakarta itu sendiri. Dengan demikian, hal pertama yang perlu dilakukan oleh Yogyakarta adalah mematangkan konsep tentang bentuk kota cerdas yang sesuai dengan keistimewaan daerahnya. 

Smart Tourism
Pertanyaan berikutnya, apa bentuk kota cerdas yang cocok untuk Yogyakarta? 

Sebuah kota cerdas harus memiliki daya saing dan mampu mengoptimalkan potensi  atau keunggulan yang dimiliki. Pengembangan kota cerdas juga harus mencerminkan visi daerahnya. Visi Kota Yogyakarta adalah sebagai “Kota Pendidikan Berkualitas, Berkarakter dan Inklusif, Pariwisata Berbasis Budaya, dan Pusat Pelayanan Jasa, yang Berwawasan Lingkungan dan Ekonomi Kerakyatan”. 

Jika diringkas visi tersebut mengandung empat pilar, yaitu pendidikan, pariwisata, budaya, dan jasa. Dari keempatnya pariwisata bisa dioptimalkan sebagai kerangka kota cerdas Yogyakarta. Transformasi kota cerdas Yogyakarta bisa dipacu dengan mengembangkan smart tourism. 

Bukan berarti kota cerdas Yogyakarta hanya akan fokus pada infrastruktur obyek wisata. Smart tourism justru akan mendorong efek berantai dengan terjadinya penguatan elemen lainnya, terutama budaya dan mobilitas kota. Penguatan dua hal tersebut akan memperteguh identitas kota cerdas Yogyakarta sekaligus meningkatkan daya saing wisatanya.

Dalam penerapannya, smart tourism Yogyakarta bisa menonjolkan nilai-nilai budaya yang selama ini memang sudah menjadi unggulan pariwisata Yogyakarta. Hal sederhana seperti menampilkan motif batik dan foto-foto landmark Yogyakarta di badan bus Transjogja bisa ditiru untuk diterapkan di tempat-tempat lain. Misalnya, memperbanyak etalase budaya di bandara, stasiun kereta api, terminal bus, hotel-hotel, dan ruang-ruang publik. Event-event budaya yang banyak digelar di Yogyakarta juga perlu dikemas secara lebih profesional dengan memaksimalkan promosi secara cerdas.

Cagar Budaya dan Museum Sebagai Percontohan
Proyek percontohan smart tourism Yogyakarta bisa dilakukan di kawasan cagar budaya dan museum. Pertama-pertama pemerintah Kota Yogyakarta perlu melakukan penataan, pendataan, dan revitalisasi kawasan cagar budaya dan museum. Kemudian informasi tentang kawasan cagar budaya serta museum tersebut harus tersedia secara lengkap dan bisa diakses dengan mudah melalui situs web atau portal wisata yang menarik. 

Museum Benteng Vredeburg di jantung kawasan Malioboro Kota Yogyakarta.
Setiap kawasan perlu dilengkapi wifi gratis. Tersedianya internet selain memudahkan wisatawan mengakses informasi, juga menimbulkan gairah untuk berbagi melalui media sosial tentang keunikan kawasan yang sedang dikunjungi. Untuk fasilitas wifi gratis Pemerintah Kota Yogyakarta bisa mendorong provider-provider telekomunikasi yang selama ini cenderung fokus menyediakan hotspot di pusat kota agar mulai beralih ke kawasan-kawasan cagar budaya dan museum-museum yang tersebar di berbagai penjuru kota.

Kawasan wisata dalam hal ini cagar budaya dan museum perlu ditunjang dengan teknologi seperti CCTV yang bisa memantau keadaan secara realtime. Melalui CCTV kepadatan wisatawan juga bisa dikendalikan karena jumlah pengunjung yang berlebihan akan mengancam keberadaan cagar budaya.
Aplikasi mobile perlu dikembangkan untuk mendukung smart tourism sebagai bagian dari kota cerdas Yogyakarta.


Untuk mengoptimalkan smart tourism harus ada aplikasi mobile yang efektif, menarik, dan interaktif. Aplikasi “Jogja Smart City” dan “Jogja Istimewa” yang saat ini tersedia di google playstore bisa menjadi titik tolak aplikasi smart tourism Yogyakarta. Syaratnya kedua aplikasi tersebut harus dikembangkan agar lebih baik, lengkap dan sesuai dengan kondisi terbaru di Yogyakarta. 

Aplikasi smart tourism tidak hanya berisi daftar destinasi wisata dan event-event budaya, tapi juga menyediakan informasi penunjang lainnya. Misalnya layanan bahasa, layanan transportasi dan jarak yang akurat, informasi harga tiket dan fasilitas yang tersedia, kepadatan di tempat wisata, dan alternatif tempat wisata terdekat. Agar wisatawan mendapat gambaran dan pengalaman yang lebih berkesan, video 360 derajat dan augmented reality perlu dihadirkan secara lebih detail dan lengkap di aplikasi.
Budaya tumbuh di Kota Yogyakarta adalah modal untuk mewujudkan kota cerdas melalui smart tourism.
Melalui aplikasi smart tourism wisatawan juga bisa memberikan umpan balik atau rating secara langsung terhadap suatu destinasi dan layanan wisatanya. Rating ini akan menjadi bahan evaluasi bagi pengelola wisata sekaligus menjadi pertimbangan bagi wisatawan lain yang ingin berkunjung.

Butuh Transportasi Cerdas
Smart tourism Yogyakarta membutuhkan transportasi yang cerdas, artinya transportasi yang menjamin kepastian dan kemudahan dalam melakukan mobilitas. Selama ini wisatawan maupun masyarakat Yogyakarta sering mengalami kesulitan untuk mencapai kota maupun menuju tempat-tempat wisata karena masalah kemacetan dan transportasi publik yang terbatas.

Melalui pendekatan smart tourism, Yogyakarta bisa terus mendorong perbaikan mobilitas kota dengan menitikberatkan pada peningkatan kualitas pelayanan transportasi publik. Memang sudah sudah ada upaya untuk mengatasi masalah kemacetan dan transportasi, seperti perbaikan jalan, rekayasa lalu lintas, dan penambahan bus Trans Jogja beserta rute atau jangkauan wilayah perjalanannya. Namun, masih ada tantangan utama untuk menghadirkan transportasi cerdas di Yogyakarta, yaitu inovasi teknologi informasi dan komunikasi.

Inovasi tersebut berupa aplikasi di smartphone yang ditujukan untuk mengoptimalkan perjalanan. Melalui aplikasi transportasi cerdas masyarakat dan wisatawan bisa mendapatkan pilihan rute dan moda transportasi terbaik untuk pergi ke tujuan. Kepadatan lalu lintas dan kemacetan bisa diketahui secara realtime disertai perkiraan waktu kapan kondisi akan kembali normal. Ini sangat berguna bagi wisatawan untuk merencanakan perjalanan berkeliling Kota Yogyakarta.

Tidak sedikit wisatawan yang terpaksa mengurungkan niatnya mengunjungi kawasan wisata karena kebingungan menemukan tempat parkir yang masih bisa memuat kendaraan. Oleh karena itu, aplikasi transportasi cerdas juga harus menyediakan informasi lokasi kantung parkir terdekat dan kapasitasnya secara realtime.

Aplikasi transportasi cerdas harus terhubung dengan sistem jaringan Trans Jogja sebagai moda transportasi publik utama di Yogyakarta. Wisatawan dan masyarakat pengguna Trans Jogja bisa mendapatkan perkiraan secara akurat tentang halte terdekat, waktu tunggu, waktu perjalanan, dan jumlah bus Trans Jogja yang sedang aktif melayani setiap rute.
Informasi tentang tempat parkir dan kapasitas tampungnya harus bisa diketahui secara realtime melalui aplikasi mobile.


Untuk mendukung smart tourism, Bus Trans Jogja yang dilengkapi GPS harus dapat dipantau melalui aplikasi mobile di smartphone.
Tentu saja hal tersebut harus diikuti beberapa penyesuaian, antara lain memastikan semua bus Trans Jogja dilengkapi GPS dan mengatur jadwal perjalanan Trans Jogja secara lebih efektif. Selama ini jadwal perjalanan Trans Jogja disesuaikan dengan waktu kegiatan mayoritas masyarakat Yogyakarta. Nantinya pada masa puncak musim liburan jadwal perjalanan Trans Jogja bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kebiasaan kunjungan wisatawan ke tempat-tempat wisata. Misalnya, pelayanan diperpanjang untuk mengakomodasi wisatawan yang pulang setelah menyaksikan event budaya yang berlangsung hingga larut malam.

Aplikasi transportasi cerdas juga perlu memfasilitasi pembayaran Trans Jogja dengan fitur NFC mobile. Saat ini sudah banyak smartphone yang dilengkapi teknologi NFC sehingga terbuka peluang pembayaran secara digital dengan mendekatkan smartphone pada mesin pembayaran.
***
Selain hal-hal yang sudah dijelaskan di atas, Yogyakarta juga harus mengembangkan  pusat komando cerdas yang aktif selama 24 jam untuk memantau kejadian-kejadian penting, terutama di tempat-tempat wisata, ruang publik, dan fasilitas umum. Melalui  pusat komando cerdas Pemerintah Kota Yogyakarta juga bisa memperhatikan informasi di media sosial yang berasal dari masyarakat dan wisatawan untuk kemudian ditanggapi. 

Dengan adanya pusat komando cerdas, setiap keluhan seperti pelanggaran tarif parkir, harga makanan dan minuman di kawasan wisata yang tidak masuk akal, bus Trans Jogja yang ugalan-ugalan, dan gangguan lalu lintas bisa ditindaklanjuti secara cepat. Pusat komando cerdas yang terintegrasi dengan aplikasi mobile dilengkapi dengan fitur permintaan pertolongan darurat kepada kepolisian. Melalui fitur ini wisatawan dan masyarakat bisa meminta pertolongan jika mengalami pencopetan, pembegalan, dan gangguan-gangguan keamanan lainnya.
Area pejalan kaki di Malioboro.
Terakhir yang tak kalah penting adalah mensosialisasikan konsep smart tourism Yogyakarta agar masyarakat bisa memahami bentuk kota cerdas daerah mereka. Adanya pemahaman bersama diharapkan membangkitkan kepedulian masyarakat untuk turut serta mewujudkan kota cerdas. Masyarakat yang aktif dan memiliki inisiatif adalah bagian yang penting dari sebuah kota cerdas. Dengan segala keistimewaan yang melekat pada daerah dan masyarakatnya, Yogyakarta semestinya bisa segera menjadi kota cerdas.

Sabtu, 04 November 2017

Belajar Membangun Desa dari Mangunan Yogyakarta

Setalah satu setengah jam lamanya menempuh perjalanan dari Kota Yogyakarta, saya tiba di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini berjarak sekitar 35 kilometer dari Kota Yogyakarta. Taman yang lumayan luas menjadi beranda yang pertama kali dijumpai sebelum memasuki desa. Taman tersebut asri dengan beberapa pohon besar tumbuh di bagian tengah. Sementara tanaman-tanaman kecil dan rerumputan tumbuh di tepinya. Di tempat ini juga terdapat Sendang Mangunan, sebuah kolam mata air yang masih dimanfaatkan oleh warga desa sebagai sumber air bersih untuk beberapa keperluan.
Pemandangan di depan rumah seorang warga di Desa Mangunan (dok. Hendra Wardhana).
Seperti pada umumnya desa-desa di Indonesia, suasana di Mangunan terasa tenang dan bersahaja. Warganya mudah memberikan senyum dan ramah sehingga membuat siapa pun yang datang cepat merasa nyaman.

Kebanyakan rumah warga di Mangunan bangunannya sederhana. Beberapa rumah berarsitektur limasan dengan konstruksi yang terbuat dari kayu. Rumah-rumah warga berdiri dengan jarak yang tidak terlalu rapat karena umumnya memiliki kebun atau halaman di samping dan di depan rumah. Itu sebabnya lingkungan di sini terlihat hijau dan sejuk karena banyak pepohonan.

Jalan setapak menjadi akses utama untuk menyusuri desa sambil melihat aktivitas warga. Banyak warga Mangunan yang bekerja sebagai petani baik di sawah maupun ladang, pembuat kerajinan kayu, serta pelaku wisata dan kegiatan pendukungnya. 

Wisata Budaya dan Tradisi
Wisata memang sedang menggeliat di Mangunan. Terutama setelah dikembangkannya Desa Wisata “Kaki Langit” Mangunan pada 2014. Sejak saat itu wisata menjadi penopang pembangunan di desa ini.

Potensi wisata di Mangunan cukup menjanjikan. Selain lingkungan alamnya yang asri serta warganya yang ramah, ragam budaya dan kearifan lokalnya juga menarik. Berbagai tradisi masih dijalankan oleh warga Mangunan secara turun temurun. Salah satunya adalah upacara mitoni atau peringatan tujuh bulan kehamilan.
Upacara Mitoni di Mangunan (dok. Hendra Wardhana).

Pertunjukkan kesenian Cokekan (dok. Hendra Wardhana).

Purwo Harsono, ketua pengelola Desa Wisata Kaki Langit Mangunan, menjelaskan bahwa upacara mitoni merupakan salah satu pengalaman wisata yang ditawarkan kepada wisatawan atau masyarakat yang berkunjung ke Mangunan. Selain mitoni, tradisi dan kebiasaan warga yang lain bisa dijumpai, di antaranya adalah gejog lesung, karawitan, cokekan, dan permainan tradisional anak-anak.

Pengelola desa wisata juga menyediakan paket perjalanan wisata budaya dan alam. Wisatawan antara lain akan diajak menyaksikan pertunjukkan-pertunjukkan seni yang menggabungkan adat dan tradisi, menginap di rumah penduduk atau di homestay dengan nuansa pedesaan, hingga mengunjungi obyek-obyek wisata alam seperti hutan pinus dan kebun buah di Mangunan. “Harapan kami wisata ini bisa menggerakkan pembangunan desa dan mengangkat kehidupan warga di sini”, kata Purwo Harsono. 

Maju Bersama
Kehidupan yang lebih baik memang menjadi harapan dan cita-cita yang dicanangkan oleh Mangunan. Bukan tanpa alasan karena Mangunan pernah dikategorikan sebagai desa tertinggal di DIY. Dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) Kabupaten Bantul tahun 2011-2015, Mangunan termasuk salah satu dari enam belas desa yang mendapat perhatian lebih karena masih tertinggal kesejahteraannya.

Nama “Kaki Langit” menyiratkan mimpi dan keinginan untuk maju tersebut. Menurut Purwo Harsono, Kaki Langit mengandung makna “kaki” yang artinya berdaya, bergerak dan membangun bersama. Sementara “langit” bermakna tinggi, yaitu cita-cita untuk membangun hidup yang lebih baik.
Taman Sendang Mangunan (dok. Hendra Wardhana).

Pasangan suami istri Mulyono dan Sumiati, pemilik homestay di Mangunan (dok. Hendra Wardhana).
Harapan itu pun mulai terwujud. Semangat warga yang disalurkan dengan menggiatkan wisata telah memberikan kontribusi pada peningkatan pembangunan desa. Jalan setapak misalnya, kini telah disemen dan dibuat lebih rata. Revitalisasi Sendang Mangunan juga dilakukan dengan memperbaiki dan membangun infrastruktur pelengkap di tempat tersebut. Pembangunan yang digerakkan oleh sektor pariwisata tidak hanya mendorong pembangunan infrastruktur di Mangunan. Tapi juga menyentuh sektor lain seperti lapangan kerja, kelanggengan budaya, dan kelestarian lingkungan. Semua itu secara perlahan telah menghadirkan kemajuan di Mangunan.

Warga memperoleh untung dari geliat wisata di desanya. Perekonomian tumbuh seiring semakin dikenalnya Desa Mangunan. Mulai dari pemilik kendaraan yang mengantarkan wisatawan berkeliling desa, pembuat kerajinan kayu, peracik wedang uwuh, hingga warga yang menyediakan rumahnya sebagai homestay untuk tempat menginap wisatawan, mereka mendapatkan penghasilan tambahan. Mulyono dan Sumiati, pasangan suami istri warga Mangunan, menceritakan bahwa sudah tiga tahun mereka memanfaatkan rumah tinggalnya yang bergaya limasan sebagai homestay. Sejak Mangunan dikembangkan sebagai desa wisata, setiap bulan ada wisatawan yang menyewa kamar-kamar di rumah mereka. Tarif kamar yang disewakan sebesar Rp150.000 per malam.

Seiring bertambahnya wisatawan yang datang, pengelola desa wisata mengajak lebih banyak warga untuk berdaya. Salah satunya dengan menjadikan rumah-rumahnya sebagai homestay. Tawaran ini pun disambut baik. Semakin banyak warga yang memugar rumah mereka, termasuk Mulyono dan Sumiati yang kemudian mempercantik dan melengkapi fasilitas di rumahnya agar wisatawan yang menginap semakin nyaman. 

Meski demikian, para pemilik rumah dan homestay sepakat untuk tidak bersaing. Warga sadar bahwa kemajuan di desanya perlu dikelola dan dijaga untuk kepentingan bersama. Setelah merasakan manfaat dari pembangunan yang digerakkan oleh pariwisata, warga Mangunan pun semakin bersemangat dalam memajukan desanya. Mereka tetap rutin bergotong royong membersihkan lingkungan sekitar. Perbaikan dan pembangunan fasilitas desa dilakukan secara bersama-sama. Desa Mangunan juga berinovasi melalui sanggar Mangun Budoyo untuk mewadahi warganya yang memiliki bakat dan kemauan mengembangkan kesenian. Kemampuan mereka dalam memainkan pertunjukkan seni dimaksimalkan sebagai atraksi wisata. 

Selain itu, daya tarik wisata diupayakan untuk mendukung kelestarian alam. Upacara mitoni misalnya, tradisi ini secara tidak langsung menumbuhkan kepedulian warga untuk menjaga keberadaan Sendang Mangunan sebagai sumber air bersih. Selama warga memiliki kesadaran untuk melaksanakan mitoni dan menggunakan air dari sendang, sepanjang itu pula kelestarian sumber air dapat terus diupayakan. Dengan demikian, wisata yang dikembangkan bisa membawa dampak yang luas dan berkelanjutan.

***
Karakteristik alam, budaya, hingga adat istiadat yang dimiliki desa-desa di Indonesia memang modal berharga yang sudah sepantasnya dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal. Asalkan mampu mengeksplorasi potensi yang dimiliki dan tetap menghargai lingkungan dan identitas lokal, pariwisata menawarkan masa depan yang lebih baik bagi desa. Jika hal ini mampu dimaksimalkan maka akan berdampak yang besar bagi pemerataan pembangunan desa-desa di Indonesia. 
Mangunan yang berdaya dengan pariwisata (dok. Hendra Wardhana).
Mangunan memberi contoh bagaimana kemajuan desa diupayakan dengan semangat dan mimpi bersama dari para warganya. Dengan mengembangkan potensi dan kearifan lokal yang dimiliki, Mangunan yang dulu tertinggal kini berhasil membangun kemajuan melalui inovasi di bidang pariwisata. 

Ketika desa tak lagi diam menunggu sentuhan pemerintah pusat, masyarakatnya pun aktif mengupayakan kesejahteraan bersama. Lewat desa wisata, pembangunan di Mangunan telah menggairahkan kehidupan warga dan mengangkatnya dari ketertinggalan. Oleh karena itu, rasanya tepat jika desa-desa lain di Indonesia belajar dari Mangunan.

Kamis, 28 September 2017

Memperteguh Transformasi Kereta Api Indonesia

Usia kereta api Indonesia menyentuh angka yang ke-72 tahun pada 2017 ini. Usia tersebut hampir setara dengan usia republik. Dengan demikian, kereta api merupakan saksi sekaligus bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia. 
Kereta api berhenti di Stasiun Prujakan Cirebon (foto: Hendra Wardhana).
Beriringan dengan pembangunan Indonesia, kereta api juga menjadi etalase kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa ini. Kereta api telah menjadi tulang punggung dalam bidang ekonomi dan transportasi di negeri ini. Wajah perkeretaapian Indonesia juga telah jauh berubah.

Saya terkenang suatu hari pada bulan Desember 2012 saat menumpang kereta api ekonomi Progo dari Stasiun Lempuyangan di Yogyakarta menuju Jakarta. Dalam perjalanan, di beberapa stasiun saat kereta berhenti masih dijumpai segelintir penjual makanan dan minuman yang masuk ke dalam kereta. Masih ada penumpang yang memilih tidur di bawah kursi atau di dekat pintu dengan beralaskan koran. Tapi kondisi tersebut sudah jauh lebih baik dibanding saat saya menumpang kereta api untuk pertama kalinya beberapa tahun sebelumnya. Setidaknya semua penumpang sudah memiliki tiket dengan nomor tempat duduk.

Potret kondisi di kereta api ekonomi yang diambil pada Desember 2012. Meski setiap penumpang sudah memiliki tiket, tapi masih ada yang memilih tidur di lantai. Penjual makanan dan minuman asongan masih bisa naik ke kerata dan penumpang merokok di kereta (foto: Hendra Wardhana).
Sepenggal wajah baru kereta api Indonesia setelah mengalami transformasi (foto: Hendra Wardhana).
Kemudian sejak 2013 sampai sekarang saya semakin senang bepergian menggunakan kereta api, baik kelas ekonomi, bisnis, maupun eksekutif. Sepanjang itu pula akselerasi kemajuan yang digulirkan oleh PT KAI selaku penyedia jasa angkutan kereta api di Indonesia bisa dirasakan.

Transformasi dengan Inovasi
Jika ditelaah, kemajuan perkeretapian Indonesia saat ini merupakan hasil transformasi yang digerakkan oleh inovasi. Dalam hal ini apa yang dirintis PT KAI sejak kepemimpinan Ignasius Jonan dan dilanjutkan oleh Edi Sukmoro sekarang, harus diapresiasi. Masyarakat, terutama yang telah lama menggunakan kereta api pasti bisa dengan mudah merinci perubahan positif kereta api, sekaligus dengan gembira mengakui bahwa kereta api Indonesia kini sangat bercirikan inovasi.

Inovasi yang paling besar dan membawa perubahan sangat signifikan adalah pemanfaatan teknologi informasi yang masif dalam berbagai layanan perkeretapian. Antara lain pemesanan tiket secara on line (internet reservation), layanan check in dan cetak boarding pass mandiri, dan aplikasi KAI Access. Kemudian e-KiosK, yaitu mesin penjualan tiket kereta api jarak jauh, serta layanan pre-order makanan dan minuman. PT KAI juga secara efektif memanfaatkan media sosial  untuk memperkuat komunikasi dan relasi dengan masyarakat, terutama generasi muda. 
Selain inovasi, kunci sukses transformasi kereta api Indonesia adalah penegakkan aturan yang lebih tegas (foto: Hendra Wardhana).
Pramugari kereta api Indonesia kini semakin profesional, berpenampilan menarik dan ramah (foto: Hendra Wardhana).
Selain inovasi, transformasi kereta api Indonesia juga didukung dengan penegakkan aturan yang tegas sehingga menghadirkan kenyamanan dan keamanan bersama. Kini, tak ada lagi penumpang yang berani merokok dan tidur di lantai kereta. Tidak ada lagi penjual makanan dan minuman dari luar yang dulu selalu berlalu lalang mengganggu kenyamanan di dalam kereta. Bersamaan dengan itu fasilitas dasar bagi penumpang di dalam kereta, seperti pendingin udara dan kebersihan toilet, semakin baik.

Wajah baru perkeretapian Indonesia juga dapat dilihat dari agresifnya PT KAI dalam melakukan penataan dan perbaikan stasiun yang kini bukan lagi menjadi tempat yang membosankan. Banyak stasiun telah memiliki ruang tunggu yang luas, bersih dan nyaman. Loket pembelian tiket dan pintu keberangkatan ditata ulang sehingga mempermudah akses penumpang. Banyaknya media informasi dan petunjuk di stasiun sangat bermanfaat bagi penumpang. 


Stasiun Lempuyangan Yogyakarta kini lebih rapi dan nyaman (foto: Hendra Wardhana).
Salah satu inovasi terbaru PT KAI adalah kursi ruang tunggu yang dilengkapi fasilitas baterai-charging seperti yang terdapat di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta (foto: Hendra Wardhana).

Inovasi lainnya bahkan melebihi ekspektasi. Misalnya, Stasiun Lempuyangan Yogyakarta kini memiliki fasilitas baterai-charging on seat, yaitu kursi-kursi di ruang tunggunya dilengkapi spot pengisian daya listrik sehingga calon penumpang semakin mudah untuk mengisi baterai handphone atau gadget miliknya. Kemudian di Stasiun Tugu Yogyakarta ada executive lounge layaknya di bandara. Kereta api ekonomi premium yang saya tumpangi saat mudik pada Juni 2017 juga cukup mengejutkan. Kereta tersebut memiliki interior yang elegan, kursi yang nyaman, dan fasilitas TV.

Perkuat Orientasi Pada Masyarakat
Harus diakui bahwa berbagai inovasi yang dihadirkan PT KAI telah mengubah pandangan masyarakat terhadap layanan kereta api. Kepercayaan  terhadap PT KAI meningkat sehingga kereta api kini menjadi transportasi kesayangan masyarakat. Salah satu indikatornya adalah terus bertambahnya pengguna kereta api. Pada 2016 saja, kereta api telah mengangkut 352 juta penumpang. 
Kereta api ekonomi Mataram Premium dengan interior yang nyaman dan elegan (foto: Hendra Wardhana).
Beberapa fasilitas kereta Mataram Premium yang diluncurkan pada musim mudik lebaran 2017 (foto: Hendra Wardhana).
Meskipun demikian, transformasi kereta api Indonesia tidak boleh berhenti di sini. Di masa mendatang PT KAI harus terus berinovasi untuk memberikan pelayanan terbaik sekaligus memperbaiki kekurangan yang masih ada.

Masukan, kritik, dan keluhan masyarakat perlu direspon oleh PT KAI karena itu merupakan modal untuk memperteguh transformasi yang sudah berjalan. Evaluasi yang berasal dari masyarakat atau penumpang sangat penting untuk mewujudkan transportasi yang lebih maju dan berkelanjutan.

Pertama, PT KAI perlu mengkaji ulang harga makanan dan minuman di kereta. Keluhan tentang mahalnya harga makanan dan minuman yang disediakan oleh PT Reska, anak perusahaan PT KAI, sudah sering terdengar. 

Mahalnya harga makanan dan minuman di kereta dan di gerai-gerai stasiun kurang sesuai dengan pengguna kereta api saat ini yang berasal dari berbagai kalangan ekonomi, mulai dari orang yang banyak uang hingga orang dengan keuangan terbatas. Satu gelas kecil minuman hangat yang dihargai mulai dari Rp7.000 dan paket nasi yang dijual mulai Rp30.000 dirasakan kurang berorientasi pada penumpang.

PT KAI tentu tidak boleh beralasan bahwa mahalnya harga makanan dan minuman merupakan konsekuensi dari perbaikan kualitas layanan. Justru menjadi tantangan bagi PT KAI untuk memberikan pelayanan terbaik sesuai harapan masyarakat dengan harga terjangkau, termasuk soal harga makanan dan minuman.

Kedua, seiring meningkatnya jumlah penumpang dan bertambahnya jadwal kereta api, dibutuhkan terobosan baru untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan bersama. Apalagi, selama ini “mengutamakan keselamatan” menjadi salah satu prinsip dan jargon pelayanan PT KAI. 

Sudah saatnya PT KAI memikirkan prosedur keamanan yang lebih ketat terhadap penumpang dan barang bawaannya. Pemasangan gate dengan pendeteksi logam dan barang berbahaya seperti di Terminal Bus Giwangan Yogyakarta bisa diterapkan di stasiun kereta api. Pada tahap awal PT KAI bisa melakukan uji coba di stasiun-stasiun besar seperti di Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta pada jam-jam tertentu.
Kotak obatan-oabatan/P3K yang kosong (foto: Hendra Wardhana).
Ketiga, PT KAI perlu memiliki standar penunjang kesehatan yang lebih baik bagi penumpang selama perjalanan. Belum semua kereta dilengkapi dengan kotak obat-obatan. Beberapa yang terpasang bahkan seringkali dijumpai tanpa isi. PT KAI juga perlu meningkatkan kapasitas SDM, dengan membekali kru perjalanan dengan keterampilan memberikan pertolongan dasar kepada penumpang yang mengalami cedera atau sakit mendadak dalam perjalanan. 

Keempat, semakin meningkatnya penggunaan e-money atau uang elektronik oleh masyarakat, loket-loket penjualan tiket di stasiun, terutama untuk kereta api jarak jauh, perlu dilengkapi dengan alat pembaca kartu e-money. Selain membuat pembelian tiket  menjadi lebih efisien, penggunaan e-money juga bisa mengatasi celah belum optimalnya pemanfaatan e-KiosK. Dengan demikian sistem pembayaran tiket kereta api  semakin bervariasi dan inklusif. 

PT KAI bisa berinovasi bersama perbankan dengan mengintegrasikan kartu e-money sebagai kartu loyalitas penumpang kereta api. Skema yang menarik bisa ditawarkan dengan e-money KAI, misalnya setiap penggunaan kartu tersebut akan dikonversi menjadi poin yang dapat dikumpulkan untuk mendapatkan diskon tiket.

Kelima, transformasi kereta api telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pembangunan berkelanjutan di negara ini. Oleh karena itu, di pundak PT KAI juga melekat peran untuk mewujudkan sistem transportasi yang berkelanjutan. Salah satunya dengan mengembangkan infrastruktur kereta yang lebih ramah lingkungan.

Dengan memiliki jalur sendiri yang  dikembangkan menjadi double track, waktu perjalanan yang presisi, serta kapasitas angkut yang besar, kereta api saat ini sebenarnya sudah lebih ramah lingkungan karena efisien dalam penggunaan bahan bakar. Namun, dibutuhkan inovasi lain yang mampu menjawab tantangan zaman. Uji coba kereta api berbahan gas yang pernah dilakukan pada 2016 adalah langkah yang baik dan perlu  dioptimalkan. PT KAI juga bisa menggunakan lebih banyak panel tenaga surya di stasiun-stasiun.

Keenam, PT KAI bisa berinovasi dengan menyediakan pojok baca di stasiun. Sehingga penumpang akan mendapatkan manfaat dan pengalaman lebih dengan membaca buku, majalah, atau koran sambil menunggu keberangkatan. Dengan demikian akan terbangun citra baru stasiun sebagai tempat penunjang gaya hidup, dalam hal ini budaya membaca.
***
Menilik usianya, PT KAI  memiliki pengalaman yang panjang dalam mendorong kemajuan negeri, sekaligus terbukti memiliki daya tahan yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Oleh karena itu, kita berharap akan terus hadir inovasi-inovasi berikutnya dari PT KAI. 
Kereta Api Indonesia (foto: Hendra Wardhana).
Bertambahnya penumpang kereta api adalah bukti bahwa transformasi yang dihadirkan PT KAI berhasil meningkatkan kepercayaan masyarakat (foto: Hendra Wardhana).

Di masa yang akan datang kereta api bukan sekadar moda transportasi yang melayani penggunanya, tapi harus menjadi penggerak kemajuan transportasi Indonesia yang berkelanjutan dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Meski terdengar sebagai tuntutan yang besar dan tidak mudah, tapi kita boleh percaya bahwa dengan semangat dan kerja keras yang telah ditunjukkan selama ini, PT KAI mampu mewujudkannya.

Rabu, 13 September 2017

Menghadirkan Kebahagiaan untuk Anak-anak di Restoran Pizza

Bermain adalah takdir anak-anak dan bahagia adalah hak mereka. Berkumpul bersana dengan teman sebaya, asyik dengan mainan, berlarian sambil tertawa riang, semuanya adalah simpul kebahagiaan anak-anak dalam dunianya yang bebas. 
Anak-anak dan relawan Museum Kolong Tangga memulai permainan di Nanamia Pizzeria (dok. pri).
Kebahagiaan dalam kebebasan itulah yang diciptakan pada Jumat (8/9/2017) sore itu. Sekitar lima belas orang anak berkumpul di taman di dalam area Restoran Nanamia Pizzeria, Jalan Tirtodipuran, Yogyakarta. Dua di antara anak-anak tersebut adalah Jamme dan Kale, putra penyanyi top Rio Febrian yang sore itu ditemani ibu mereka, artis Sabria Kono. Pasangan selebritis ini memang telah memutuskan menetap di Yogyakarta.

Dipandu oleh relawan Museum Kolong Tangga, anak-anak mengikuti workshop kreatif selama kurang lebih dua jam. Acaranya dimulai dengan permainan interaktif. Para relawan dan anak-anak berkumpul membentuk lingkaran. Tapi sebelum itu para relawan harus berkeringat lebih dulu untuk mengumpulkan anak-anak yang terlanjur asyik sendiri di berbagai sudut restoran. Ada juga anak yang enggan jauh dari orang tuanya. 

Relawan kemudian mengajak semuanya saling mengenalkan diri. Meski setiap anak dan para relawan memakai name tag di bajunya, tapi semua harus menyebutkan nama masing-masing. 

Sesuatu yang lucu terjadi saat perkenalan. Seorang anak tiba-tiba berkata, “aku mau pipis!”, dan langsung berlari keluar dari lingkaran. Seperti ada gerakan “solidaritas”, beberapa anak lainnya mendadak ikut-ikutan dan saling menyahut, “aku juga mau pipis…aku juga…aku juga!”. Para relawan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat lingkaran yang telah dibentuk kembali bubar untuk beberapa saat. Tapi hal itu bukan masalah karena memang begitulah dunia anak-anak yang “bebas”.
Artis Sabria Kono yang juga istri penyanyi Rio Febrian menyaksikan dua anaknya yang sedang bermain (dok. pri).
Membuat adonan kue dan membentuknya menjadi aneka rupa (dok. pri).
Meskipun demikian, dalam kebebasannya anak-anak tetaplah pribadi yang mudah disentuh hatinya dengan pendekatan yang benar. Itulah yang dilakukan para relawan sehingga bisa membuat anak-anak itu kembali menurut untuk membentuk lingkaran.

Dalam lingkaran, anak-anak mendengarkan cerita yang disampaikan oleh seorang relawan. Sesekali anak-anak menyahut saat mendengar cerita yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan. Mereka juga antusias saat mendapat sebuah instruksi. Misalnya, instruksi untuk mendekat ke teman yang berbaju pink atau bergaya mengikuti gerakan tertentu.

Menjelang pukul empat sore, anak-anak berpindah tempat. Kali ini mereka duduk di sudut taman tepat di bawah pohon yang teduh. Mereka diajak untuk bermain adonan tepung terigu yang telah disediakan di beberapa wadah. 

Mula-mula mereka diajari memadatkan adonan dengan menambahkan air dan minyak dalam jumlah tertentu. Kemudian adonan dibagi menjadi beberapa bagian yang lebih kecil. Saat relawan menyebutkan adonan boleh dibuat berbentuk buah-buahan, anak-anak itu semakin heboh. Instruksi agar menambahkan pewarna sedikit demi sedikit seolah angin lalu. Akibatnya beberapa anak harus mendapati tangan mereka kotor dan berlumuran warna. Namun, hal itu tampaknya tidak dipedulikan mereka yang tetap asyik membentuk adonan-adonan dan mewarnainya.
Suasana di kids corner (dok. pri).
Ekspresi bahagia terlihat di wajah anak-anak sepanjang acara berlangsung. Terutama saat bermain adonan kue. Semakin lama semakin mereka terlihat antusias. Bahkan ketika ada orang tua yang memberi masukan untuk mewarnai dengan warna tertentu, sang anak justru tetap kukuh dengan warna pilihannya sendiri. Kreativitas mereka seolah berkuasa sore itu.

Bermain adonan kue memang salah satu cara untuk melatih kreativitas anak. Dengan membuat adonan sendiri dan membentuknya sesuai selera, anak-anak diajak untuk mengembangkan imajinasinya. Workshop juga menjadi cara jitu untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan pada diri anak-anak. Misalnya, mereka diperkenalkan tentang kebersamaan dan berbagi dengan bergantian menggunakan peralatan yang ada.

***
Acara workshop dan permainan kreatif ini adalah bagian dari perayaan 10 Tahun Nanamia Pizzeria, restoran yang menyuguhkan berbagai hidangan Italia di Yogyakarta. Tomi Syafrudin selaku marketing Nanamia Pizzeria menyebutkan bahwa workshop dan permainan kreatif merupakan bagian dari komitmen Nanamia Pizzeria dalam mendukung kegiatan pendidikan informal di luar sekolah bagi anak-anak. Oleh karena itu, Nanamia Pizzeria tidak hanya sekali menyelenggarakan workshop. “Sejak 2015 kami sudah membuat workshop. Biasanya setiap dua minggu sekali”, tegas Tomi.

Untuk menyelenggarakan workshop, Nanamia menggandeng komunitas-komunitas kreatif di Yogyakarta. Salah satunya adalah Museum Kolong Tangga yang memfasilitasi workshop permainan anak. 

Menurut Tomi, ide awal menyelenggarakan workshop dan permainan kreatif untuk anak-anak tak lepas dari masukan para pelanggan setia mereka yang menginginkan nilai tambah saat berkunjung. Usulan tersebut disambut oleh pengelola karena banyak dari pengunjung merupakan keluarga muda. Kebetulan pula restoran Nanamia Pizzeria di Tirtodipuran memiliki halaman yang lega. Halaman itulah yang kemudian ditata menjadi taman sekaligus tempat makan out door.

Nanamia Pizzeria juga menambahkan kids corner sederhana di sudut ruang makan. “Jadi saat orang tua memesan dan menunggu makanan, anak-anaknya bisa dialihkan bermain di kids corner”, kata Tomi.
10 Tahun Nanamia Pizzeria (dok. pri).
Sejak pertama kali diadakan, workshop dan permainan kreatif untuk anak-anak disambut baik oleh para pengunjung, khususnya orang tua. Meski untuk mengikutinya dikenakan biaya mulai dari Rp40.000 per anak, tapi banyak yang meminati. Hanya karena keterbatasan ruang maka jumlah pesertanya pun dibatasi.


Bagi Nanamia Pizzeria, workshop untuk anak-anak bukan sekadar untuk menarik perhatian pengunjung. Menciptakan kebahagiaan sesungguhnya bagian yang tak terpisahkan dari tradisi kuliner, dan anak-anak adalah pihak yang paling membutuhkan kebahagiaan itu.

Cerita Populer

BERANDA