Selasa, 10 April 2018

Mengintip LGBT di Yogyakarta


Akhir-akhir ini LGBT kembali ramai diperbincangkan di Indonesia. Bahkan, menjadi isu nasional yang bermuatan politis. 

LGBT adalah sebutan untuk kaum non-heteroseksual yaitu lesbi, gay, biseksual dan transgender. Selama ini LGBT mendapat stigma yang buruk di tengah masyarakat. Orientasi seksual dan penyimpangan perilaku mereka dianggap sangat tidak pantas, dicap hitam, bahkan dianggap sebagai penyakit sosial yang membahayakan. Kaum LBGT pun mengalami diskriminasi yang nyata.  Tak sedikit dari mereka terasing dari keluarga dan lingkungan asalnya.
"Seorang transmen atau pria trans sekaligus pegiat LSM LGBT tampil dalam  pertunjukkan 100% Yogyakarta pada Oktober 2015.

Beberapa waktu lalu sebelum  ramai menjadi isu politis, LGBT diperbincangkan lewat suara-suara dan pandangan dari lingkungan istitusi pendidikan.  Pandangan-pandangan itu pun menimbulkan kontroversi. Misalnya, pernyataan Menristekdikti yang menyebutkan LGBT dilarang masuk ke dalam kampus mendapat kritikan tajam. Hal itu kemudian diluruskan bahwa bukan LGBT yang dilarang, melainkan ekspresi hubungan mereka yang tidak boleh dibawa ke dalam kampus. Namun kritik tak langsung mereda sehingga sang menteri kemudian berbalik menyatakan bahwa ia tidak melarang LGBT di kampus.

Masalah LGBT memang tidak sederhana karena menyangkut banyak hal mengenai kehidupan seseorang. Silang pendapat mengenai LGBT juga akan selalu ada. Akan tetapi, munculnya pandangan dan suara-suara yang tidak produktif seputar LGBT, yang berasal dari lingkungan pendidikan dan kaum terdidik memang pantas disayangkan. Institusi pendidikan yang semestinya menjadi ruang berpikir, memberi apresiasi dan anti-diskriminasi, justru memiskinkan ketiga hal tersebut.

Ada peristiwa menarik yang barangkali bisa menjadi pelajaran dan refleksi berpikir bagi kita semua dalam memandang permasalahan LGBT.

Peristiwa pertama terjadi pada Juli 2013 di Malioboro. Ketika itu ada karnaval budaya menuju halaman depan Kantor Gubernur DIY. Dalam karnaval tersebut terlihat puluhan peserta yang tampil dengan mengenakan aksesoris dan membawa bendera atau kain berwarna pelangi yang selama ini identik dengan kaum LGBT. Mereka juga mengusung poster-poster yang berisi ajakan untuk menghentikan diskriminasi dan bullying terhadap kaum LGBT. Di antara mereka terdapat beberapa warga asing yang turut serta.

Tidak diketahui pasti apakah puluhan partisipan karnaval tersebut merupakan kaum LGBT atau hanya pegiat anti-diskriminasi dan anti-bullying yang juga peduli dengan masalah LGBT. Namun hal itu paling tidak menunjukkan bahwa Yogyakarta dan masyarakatnya memberikan ruang bagi perbedaan, termasuk bisa menerima mereka yang secara nyata memiliki orientasi yang berbeda.


Peristiwa lain berlangsung pada 31 Oktober 2015 dalam pertunjukkan “100% Yogyakarta” di Taman Budaya Yogyakarta. Dari 100 pemeran utama yang terlibat dalam acara tersebut, ada satu orang yang menarik perhatian panggung. Saat itu di hadapan ribuan penonton ia mengungkap jati dirinya yang “berbeda”. Tepuk tangan gemuruh seketika terdengar seperti memberi apresiasi serta dukungan atas keberaniannya bersuara.

M, begitulah inisial namanya. Ia adalah adalah seorang transmen atau transgender female to male sekaligus pegiat LSM masalah LGBT. Mengintip akun media sosial miliknya, M terlihat percaya diri mengungkap identitasnya secara terbuka. Di akun tersebut ia memposting foto-foto dan cerita kegiatannya sehari-hari yang tak jauh berbeda dengan masyarakat lain pada umumnya. Ia dan rekan-rekannya berdialog dengan komunitas lain di Yogyakarta, mengunjungi pegiat sosial dan mendengarkan bimbingan, serta bertukar pikiran tentang banyak hal menyangkut kehidupan mereka.

M yang berasal dari Malang memutuskan pindah ke Yogyakarta beberapa tahun lalu. Meski pandangan aneh masih sering diterima, namun baginya Yogyakarta adalah rumah yang lebih baik. Ia dan rekan-rekannya seperti mendapatkan kehidupan lagi setelah terkekang dengan lingkungan sebelumnya. Di Yogyakarta ia mendapatkan hak-haknya sebagai warga masyarakat. Bahkan, ia juga bisa kuliah di sebuah perguruan tinggi. Ia lalu memberikan testimoni begini: “Kalau urusannya dengan identitasku, Jogja masih menyenangkan karena dialog tentang LGBT itu sangat mudah dilakukan di sini”.

Tak hanya melalui dialog, potret LGBT di Yogyakarta juga pernah diangkat ke dalam penelitian skripsi. Salah satunya oleh Nadya Miranti untuk UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2013. Ia bahkan mengangkat realitas kaum LGBT di lingkungan kampus, khususnya kondisi psikologis mahasiswa biseksual di Yogyakarta.

Beberapa fakta dan informasi penting terungkap dalam skrispi tersebut. Salah satunya tentang adanya pergolakan batin dan konflik intrapersonal pada diri kaum biseksual. Sebagian dari mereka mengalami kebingunan ketika berniat untuk memperbaiki orietasinya. Di sisi lain mereka berusaha menyembunyikan hal itu karena lingkungan terlanjur memandang buruk ke arah mereka.
Suara-suara tentang LGBT dalam sebuah parade di Maliboro pada Juli 2013.

Dari realitas-realitas di atas, tidakkah kita berpikir bahwa daripada memerangi atau memusuhi mereka, mengapa tidak kita coba untuk menjadi pendengar bagi mereka? Sembari berharap mereka bisa lepas dari kebingungan. Atau lebih baik diam agar kita tidak mudah membenci sesama manusia.

Rabu, 04 April 2018

Soedirman, Buku yang Miskin Cerita

Soedirman adalah salah satu ikon utama perjuangan nasional bangsa Indonesia. Jenderal Besar yang lahir di Purbalingga, Jawa Tengah ini barangkali adalah gambaran lengkap dari seorang patriot dan pahlawan. 
Buku "Soedirman" (dok. pri).

Sayangnya, buku "Soedirman" dari penerbit Araska yang baru saya baca ini tidak berhasil merangkai profil kebesaran sang Jenderal secara menarik dan megah. Meski di bawah judul "Soedirman" terdapat keterangan "Riwayat Hidup, Perjuangan dan Kisah Cinta Sang Jenderal", tapi  buku ini seperti kekurangan bahan untuk menceritakan  hal-hal tersebut.

Selain kurang mendalam, beberapa informasi dalam buku ini juga kurang akurat. Inkonsistensi mengenai beberapa hal tentang Soedirman membuat pembaca bingung. Ditambah banyak kalimat yang susunannya tidak tepat.

Buku ini terlalu banyak mengulang-ngulang hal yang sama melalui kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf yang dimunculkan beberapa kali. Bahkan ada sekitar 15 halaman yang bisa langsung dilewati dan tak perlu dibaca lagi.

Barangkali buku ini ditujukan sebagai biografi dan rangkuman perjalanan hidup Soedirman. Akan tetapi, membaca buku ini secara keseluruhan seperti disuguhi  kumpulan cerita yang sudah ada sebelumnya, kemudian dirangkai, tanpa banyak menghadirkan telaah baru atau informasi tambahan. Ketika buku ini memasukkan panjang lebar cerita fiksi dari novel tentang Soedirman, upaya untuk melengkapi informasi menjadi terlihat aneh dan dipaksakan.

Pada akhirnya bagi saya buku ini belum bisa menjadi referensi alternatif yang menarik tentang Jenderal Soedirman.

Sabtu, 31 Maret 2018

Asal-usul dan Sejarah Orang Jawa: Sampul yang Tak Sesuai Isi

Jangan menilai buku dari sampulnya. Sebuah ungkapan yang sudah berlaku umum sebagai petuah atau pedoman bagi kita agar tak mudah menilai sesuatu hanya dari kesan sesaat terhadap tampilan luar. Biasanya ini berlaku sebagai peringatan agar kita tak gegabah memandang kepribadian orang jika belum mengenalnya lebih dekat.

Namun, kali ini yang saya bicarakan adalah tentang buku itu sendiri. Saya baru saja membaca  buku berjudul "Asal-usul & Sejarah Orang Jawa" yang diterbitkan penerbit Araska.
Dalam urusan membaca buku, saya adalah pembaca yang cenderung cepat menyukai atau juga cepat tidak menyukai sebuah buku setelah sampai pada 10-20 halaman pertamanya. Gairah saya dalam menuntaskan membaca buku sangat ditentukan oleh apa yang saya rasakan dan saya temukan dari halaman-halaman pertamanya. Dan, saat membaca buku "Asal-usul & Sejarah Orang Jawa" ini saya mendapati bahwa minat saya untuk meneruskan halaman-halaman berikutnya telah jauh berkurang. Meski pada akhirnya saya selesai menyentuh halaman terakhirnya.

Buku ini tidak sementereng sampul depan dan belakangnya. Kurang semenarik judul dan kata pengantarnya. Bahkan pada 30 halaman pertamanya saya tidak menemukan banyak hal kecuali kalimat dan cerita yang diulang-ulang. Kemudian saya menemukan bahwa buku ini tidak bisa membedakan benua Eropa dan Amerika. Juga mengalami kebingungan antara Gunung Lawu dan Kelud. Penarikan kesimpulan yang coba dimunculkan di buku ini cenderung dimulai dari potongan-potongan premis yang kurang lengkap. Bahkan, tampaknya susah untuk menemukan kesimpulan dalam buku ini.

Barangkali ekspektasi saya tentang buku ini telah lebih dulu berlebihan karena saya berharap akan berjumpa dengan kajian-kajian mendalam penuh analisis tentang sejarah orang Jawa. Tapi buku ini ternyata hanya menuliskan definisi-definisi dan beberapa deret istilah.

Saya merasa bahwa saya telah keliru membaca sampul buku. Faktanya buku ini hanya sedikit menyinggung "Asal-usul" dan "Sejarah". Selebihnya buku ini lebih banyak memberikan definisi pendek tentang jajan pasar, tari serimpi, merti desa, mubeng beteng, dan hal-hal lain yang akan dibutuhkan oleh anak-anak sekolah yang membutuhkan hafalan cepat menjelang ujian.

Tidak terlalu banyak hal baru yang muncul dari buku ini. Dengan judul yang mentereng, isi buku ini malah cenderung mengecewakan. Sangat disayangkan bahwa pembaca yang menghendaki informasi mendalam tentang asal dan sejarah orang Jawa (mungkin) tidak akan menemukan jawabannya dalam buku ini.

Senin, 19 Maret 2018

Penting! Penjelasan Indosat Ooredoo Tentang Pulsa dan Kuota Internet Pelanggan yang Sering Hilang


Pada Rabu, 14 Maret 2018, sehari sebelum peringatan Hari Hak Konsumen Sedunia, saya duduk bersama dan bertemu empat mata dengan M. Bair, Manajer Digital Care  (Indosat Care) Indosat Ooredoo untuk membicarakan sekaligus menyelesaikan permasalahan mengenai hilangnya pulsa dan kuota internet yang saya alami pada Januari, Februari, dan Maret 2018.  Secara rinci hal itu sudah saya tuliskan di sini.

Indosat Ooredoo (dok. pri).
Pertimbangan bahwa kejadian seperti ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali, telah mendorong saya untuk mengambil langkah sedikit lebih serius dalam mempertanyakan bagaimana Indosat Ooredoo menangani aduan-aduan dan bagaimana mereka mengambil tanggung jawab atas kerugian-kerugian yang dialami pelanggan seperti saya. Oleh karena itu, saya mengapresiasi terlaksananya pertemuan sebagai bagian dari penyelesaian masalah.

Sebelum pertemuan terjadi, aduan dan keluhan saya telah diterima Indosat Care yang kemudian mengembalikan pulsa dan kuota internet saya.  Pada dasarnya saya pun menerima dan menghargai pertanggungjawaban itu.

Dalam pertemuan dan diskusi yang berlangsung kurang lebih 1,5 jam di Yogyakarta, Indosat Ooredoo melalui Manajer Indosat Care menanggapi pertanyaan-pertanyaan, juga aduan yang telah saya rinci. Dijelaskan pula beberapa hal mengenai masalah teknis dan skema yang menyangkut paket internet Indosat Ooredoo, serta upaya-upaya yang dilakukan Indosat Ooredoo sebagai respon atas aduan-aduan pelanggan.

Berikut ini inti dari penjelasan Manajer Indosat Care terkait hilangnya pulsa dan kuota internet yang saya alami. Dalam beberapa hal penjelasan serta tanggapan yang diberikan kepada saya barangkali juga menjadi jawaban atas keluhan para pengguna Indosat Ooredoo lainnya yang mengalami ketidaknyamanan serupa.

Pertama, Indosat Ooredoo tidak memungkiri telah banyak mendapat aduan dan keluhan dari pelanggan yang dalam periode akhir-akhir ini kejadian berkurangnya pulsa berada di “top 3” daftar keluhan terbanyak yang diterima Indosat Care. Kehilangan pulsa itu banyak dialami pelanggan Indosat Ooredoo yang mengaktifkan paket internet Yellow. Selain itu, Indosat Ooredoo tidak memungkiri fakta bahwa ada kehilangan-kehilangan lain yang terjadi. Indosat Ooredoo telah melakukan berbagai upaya dan menekankan komitmen positif mereka terhadap pelanggan.

Kedua, Indosat Ooredoo meminta maaf atas ketidaknyamanan yang saya alami, terutama akibat hilangnya kuota internet dan pemotongan pulsa pada Januari, Februari, dan Maret 2018. 

Terkait kejadian pada Januari 2018, telah dilakukan pemeriksaan lebih mendalam pada sistem dan didapatkan hasil bahwa nomor Indosat saya saat kejadian seharusnya memang terdaftar dan memiliki paket internet Freedom yang aktif. Hasil ini juga mengkoreksi penjelasan Indosat Care sebelumnya yang menyebutkan nomor saya tidak terdaftar dalam paket internet.

Penyebab hilangnya kuota internet dan pulsa disebut sebagai dampak dari migrasi atau transisi pada sistem yang berlangsung beberapa saat sebelum kejadian. Ada sedikit masalah teknis sehingga prosesnya berlangsung kurang sempurna. Akibatnya beberapa nomor pelanggan Indosat Ooredoo mengalami dampak, yaitu terhapusnya paket internet sehingga sistem secara otomatis menghitung biaya perKB dengan memotong pulsa yang ada. Indosat Ooredoo telah mengidentifikasi masalah ini dan memulihkan pulsa atau paket internet pada nomor yang terdampak.

Ketiga, tentang kesan Indosat Care yang lamban dan mengabaikan sejumlah aduan atau keluhan pelanggan, dinyatakan bahwa mereka peduli dan memperhatikan hal itu. Dalam mengelola aduan dan keluhan pelanggan, Indosat Care memiliki prosedur yang memungkinkan aduan-aduan yang bersifat sangat penting akan diteruskan ke manajer untuk ditindaklanjuti secara cepat dan segera. 

Tapi, juga tidak dimungkiri bawah ada petugas Indosat Care, admin/petugas pelayanan twitter @IndosatCare, yang kurang berdisiplin dalam mengelola aduan. Pada saat pergantian tugas kadang ada petugas yang lalai menerapkan standar prosedur yang menyebabkan keterlambatan penanganan aduan. Kadang juga terjadi gangguan pada sistem teknologi yang menyebabkan delay sehingga aduan pelanggan terhambat.

Keempat, tentang hilangnya pulsa yang terjadi setelah pelanggan mendapat sms-sms tertentu, seperti yang saya alami pada akhir Februari 2018, diakui bahwa Indosat Ooredoo menemukan adanya content provider “nakal” di antara beberapa content provider yang bekerja sama dengan pihak mereka. Content provider nakal telah “memangkas” prosedur pengiriman konten dengan mengirimkan langsung sms-sms ke nomor pelanggan tertentu tanpa disertai konfirmasi sehingga pelanggan langsung dikenakan biaya atas sms-sms tersebut.

Indosat Ooredoo berterima kasih atas aduan saya dan telah melakukan black list disertai jaminan bahwa nomor Indosat Ooredoo saya tidak akan pernah lagi menerima sms-sms dari content provider nakal tersebut. Bagaimana jika ternyata saya kembali mendapat sms-sms serupa? Manajer Indosar Care menegaskan lagi jaminannya.

Ketika disinggung kemungkinan adanya celah kelemahan pada sistem Indosat sehingga content provider nakal bisa langsung mengirim sms dan memotong pulsa tanpa konfirmasi pelanggan, jawaban diplomatis diberikan bahwa Indosat Ooredoo sangat berharap pelanggan melaporkan sms-sms tersebut agar segera diidentifikasi  content provider yang melanggar prosedur dan Indosat Ooredoo memulihkan pulsa pelanggan yang terbukti dirugikan.

Mengapa bukan Indosat Ooredoo yang lebih aktif mengidentifikasi content provider nakal tanpa harus menunggu aduan pelanggan? Dijawab bahwa Indosat Ooredoo sudah beberapa kali melaporkan content provider nakal ke Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia.
Aplikasi MyIM3 (dok. pri).

Selain empat penjelasan di atas, ada hal-hal lain yang juga terungkap dan dijelaskan dalam pertemuan. Tiga hal di bawah ini menurut saya SANGAT PENTING dan PERLU DIKETAHUI oleh para pelanggan Indosat Ooredoo. Diakui bahwa ada informasi-informasi yang selama ini belum tersosialisasikan secara maksimal oleh Indosat Ooredoo. Beberapa hal belum dengan jelas disebutkan pada media sosialisasi/edukasi Indosat Ooredoo, baik di informasi produk, maupun dalam rincian keterangan lainnya yang memungkinkan diketahui secara lengkap oleh pelanggan Indosat Ooredoo. 

1. Terkait aplikasi MyIM3 (dulu MyCare) di smartphone. Aplikasi yang diharapkan mampu memberikan update informasi secara realtime, khususnya mengenai jumlah pulsa dan kuota internet yang dimiliki pelanggan, nyatanya sering terlambat menampilkan pembaruan informasi. Akibatnya pada waktu-waktu tertentu informasi yang dibaca pelanggan pada aplikasi kurang akurat. Kekurangan ini menimbulkan celah yang berdampak merugikan seperti pemotongan pulsa karena saat berinternet pelanggan bisa jadi akan menganggap bahwa masih tersedia kuota data yang cukup. Padahal, secara faktual kuota internet yang dimilikinya sebenarnya sudah hampir habis, tapi informasi penting ini mengalami “delay” di aplikasi MyIM3.

Indosat Ooredoo terus berusaha mengatasi kekurangan ini. Di sisi lain pelanggan sebaiknya sering melakukan refresh pada saat mengakses aplikasi MyIM3.

2. Untuk pelanggan Indosat Ooredoo yang mengaktifkan paket internet Yellow 1 GB perlu mengetahui bahwa periode 1 hari 24 jam pada masa berlaku paket ini secara faktual, dikatakan oleh Manajer Indosar Care, adalah “24 jam kurang 3 menit”. Barangkali ini bisa menjadi salah satu jawaban mengapa banyak pengguna paket internet Yellow mengeluhkan pemotongan pulsa, padahal periode 1 hari belum habis. 

Meski saya belum pernah menggunakan paket Yellow, tapi mengetahui “skema” tersebut saya menyampaikan bahwa pelanggan yang tidak tahu dan kemudian mengalami pemotongan pulsa tidak bisa disalahkan atau dianggap ceroboh karena Indosat Ooredoo tidak memberitahukan ketentuan tersebut secara luas.

3. Terkait dengan pemotongan pulsa secara tiba-tiba yang saya alami pada awal Maret 2018, Indosat Ooredoo telah mengembalikan pulsa saya. Tapi juga menjelaskan bahwa pelanggan sebaiknya menambah kuota internet atau memperpanjang paket internetnya jika diketahui kuota data internetnya hanya menyisakan puluhan MB.

Hal ini dikarenakan adanya skema khusus dalam konsumsi data dalam internet Indosat Ooredoo. Sayangnya, informasi tentang skema itu pun belum tersampaikan dengan baik selama ini, juga tidak disebutkan dalam keterangan produk dan layanan internet Indosat Ooredoo sehingga tidak diketahui secara luas.

Dijelaskan bahwa skema konsumsi data Internet Freedom Indosat Ooredoo “tidak menganggap” sisa kuota dalam jumlah kecil tertentu pada saat pelanggan mengakses internet dengan lebih dari satu aplikasi atau jendela, di mana akumulasi konsumsi datanya lebih besar dari sisa kuota yang ada. Contoh ilustrasinya adalah: pengguna masih memiliki kuota internet Freedom 75 MB, lalu mencoba mengakses aplikasi twitter dan WA dengan akumulasi 90 MB, maka skema biaya perKB langsung dikenakan atas 90 MB, bukan kelebihan 15MB karena kuota 75 MB dikesampingkan.

Memang skema seperti demikian terkesan kurang adil dan bisa memperlebar celah kemungkinan pelanggan mengalami pemotongan pulsa atas biaya perKB. Namun, itulah yang diberlakukan oleh Indosat Ooredoo saat ini. Sekalipun ada fitur Saving Data pada aplikasi MyIM3 yang bisa dimanfaatkan pelanggan untuk membantu memperketat konsumsi data internet, skema konsumsi data seperti demikian tetap dirasakan aneh.

Oleh karena itu, pada saat pertemuan saya berulang kali menekankan bahwa pelanggan Indosat Ooredoo tetap dirugikan dan tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas kehilangan pulsa atau kuota internet akibat skema-skema di atas. Di balik ketidaktahuan banyak pelanggan, ada tanggung jawab Indosat Ooredoo karena selama ini tidak  secara rinci menerangkannya sebagai “syarat dan ketentuan”, hal yang semestinya diinformasikan secara jelas, lengkap, dan transparan kepada para pengguna Indosat Ooredoo.

Atas tanggapan saya, Indosat Care menerima masukan-masukan dan memahami untuk meningkatkan sosialisasi serta edukasi seputar produk dan layanan Indosat Ooredoo kepada pelanggan/pengguna. Di sisi lain saya berharap Indosat Ooredoo sungguh-sungguh membuktikan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, menjamin hak-hak pelanggan, serta memastikan bahwa masalah-masalah yang dialami oleh pelanggan dapat diatasi secara maksimal.

Sabtu, 10 Maret 2018

Menjelang Sunset di Bukit Lintang Sewu

“Selamat datang di Lintang Sewu, bagaimana jalan-jalannya?”, sapa Purwo Harsono, seorang pegiat pengembangan wisata lokal di Kecamatan Dlingo, menyambut saya di puncak Lintang Sewu sore itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 dan suasana tidak begitu ramai sehingga ketenangan yang melenakan sangat terasa. Saya pun segera membebaskan diri untuk menikmati tempat ini.
Panorama di hadapan Bukit Lintang Sewu (dok. pri).

Lintang Sewu adalah spot wisata berupa bukit di Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk mencapai Lintang Sewu tidaklah terlalu sulit karena akses jalan yang menghubungkan Kecamatan Dlingo dengan Kota Yogyakarta maupun Gunungkidul relatif baik. 

Jarak Lintang Sewu dari pusat kota Yogyakarta sekitar 35 km. Hanya saja tidak ada transportasi umum yang mengantar langsung mencapai ke lokasi. Menggunakan kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor atau menyewanya dari layanan jasa transportasi akan lebih mudah dan membawa kita ke Lintang Sewu dalam waktu sekitar 75 menit.
Selamat datang di Lintang Sewu! (dok. pri).
Taman di Bukit Lintang Sewu (dok. pri).


Begitu mendekati Lintang Sewu setelah melewati jalanan yang agak berkelok dan menanjak, pemandangan asri di kanan dan kiri jalan segera mengundang antusiasme. Maklum saja, Lintang Sewu masih berada dalam “jalur wisata” Kecamatan Dlingo yang lebih dulu melambungkan Kebun Buah Mangunan, Puncak Becici, serta hutan-hutan pinusnya yang menarik.

Purwo Harsono menjelaskan bahwa lokasi wisata Lintang Sewu yang diluncurkan untuk umum pada 2017 ini dikelola langsung oleh warga setempat yang tergabung dalam kelompok wisata. Setiap pengunjung cukup membayar Rp2.000 untuk masuk ke Lintang Sewu. Tambahan uang diperlukan untuk membayar jasa parkir sebesar Rp2.000 per sepeda motor dan Rp5.000 per kendaraan roda empat. 

Rumah mungil di Bukit Lintang Sewu (dok. pri).
Penamaan “Lintang Sewu" yang berarti bintang seribu atau seribu bintang merujuk pada pengalaman dan sensasi yang bisa didapatkan di puncak bukitnya. Kala malam cerah tanpa awan menghalangi, bintang gemintang akan terlihat bertaburan dan berpendar di langit Lintang Sewu.

Akan tetapi, daya tarik Lintang Sewu lebih dari itu. Berada di ketinggian sekitar 345 mdpl  menjadikan tempat ini dilingkupi hawa sejuk. Rimbun pepohonan pinus dan kayu putih yang banyak tumbuh menambah kesegaran.

Sembari menikmati semilir angin dan tarian daun-daun, arahkan pandangan ke sekeliling untuk menyimak pemandangan yang memesona. Dari puncak bukit Lintang Sewu lukisan-lukisan alam yang indah terpampang nyata. 

Di kejauhan deret pegunungan tampak gagah. Hijau hutan yang membentang menjadi latar belakang yang anggun. Terlihat pula lembah-lembah dengan kelok sungai di antara kaki bukit. Cara terbaik untuk menikmati keindahan ini adalah dengan diam memandanginya selama beberapa menit. Bisa juga jika dilakukan sambil duduk atau berdiri di gardu pandang. 

Dari gardu pandang yang instagramable keindahan alam Lintang Sewu sayang jika dilewatkan tanpa mengabadikannya dalam bentuk foto. Tapi jangan terlalu bernafsu karena selain berada di ketinggian, beberapa gardu pandang juga berada di tepi puncak bukit. Keindahan Lintang Sewu bisa jadi membuat pemburu foto selfie yang narsis menjadi kurang waspada.
Menjelang Sunset (dok. pri).
Beberapa petak taman yang ditumbuhi bunga warna-warni mempercantik Lintang Sewu. Di sekitar taman terdapat tempat duduk untuk bersantai. “Ini belum semua. Nanti kami akan  buat (taman) lagi. Sementara yang sudah ada masih perlu dirapikan”, kata Purwo Harsono menjelaskan rencana pengembangan Lintang Sewu selanjutnya.

Lintang Sewu juga menarik dengan keberadaan bangunan-bangunan unik. Salah satunya adalah “rumah ranting”. Bangunan yang bisa dimasuki dua hingga tiga orang ini dinding dan atapnya tersusun dari ranting-ranting pohon yang saling dikaitkan dan disatukan. Sekilas bentuk rumah ranting ini seperti rumah binatang atau kurcaci di cerita-cerita dongeng.

Gardu pandang yang instagrammable (dok. pri).
Lepas pukul 17.30 pemandangan berupa perbukitan hijau yang megah pelan-pelan digantikan dengan lukisan senja yang dramatis. Lintang Sewu adalah salah satu tempat yang pas untuk menikmati sunset karena posisinya langsung berhadapan dengan cakrawala.

Menjelang matahari tenggelam langit di puncak Lintang Sewu menjadi merona. Transisi warnanya mengingatkan pada lirik indah lagu KAHITNA “lalu aku bilang sayang, wajahmu merah merona”. Dari kekuningan, oranye, lama kelamaan ronanya semakin kuat. Bentang langit seperti terbakar dan kehangatannya terasa sampai ke  Lintang Sewu. 

Begitu indahnya pertunjukkan senja di Lintang Sewu membuat mata enggan berpaling. Kemudian saat warnanya semakin menua, dari merah merona menjadi biru kehitaman, terbersit rasa syukur atas keagungan Tuhan yang telah menciptakan dan mengatur setiap detail lukisan-lukisan alam itu.
Jelang senja (dok. pri).
Sunset! (dok. pri).


Rasanya tak cukup hanya satu atau dua jam berada di Lintang Sewu. Di tempat ini pandangan mata seolah dihadang oleh panorama-panorama menawan di segala penjuru. Tapi apa boleh buat, langit telah gelap. Kaki pun melangkah meninggalkan Lintang Sewu.

Cerita Populer

BERANDA