Jumat, 23 Februari 2018

Belajar Toleran Pada Desa Kaloran

Sejak mula datangnya, Islam adalah agama yang sangat mengayomi dan penuh semangat menghargai. Islam menjadikan kemanusiaan sebagai salah satu inti ajarannya di mana toleransi ada di dalamnya. Nabi Muhammad saw pun memiliki karakter yang lembut, penuh kasih, dan pemaaf. 

Ngaji Toleransi (dok. pri).
Namun, kini banyak orang yang menyebut diri sebagai pembela Islam justru menampilkan sikap dan tindakan yang berkebalikan. anyak orang yang mengaku meneladani Rasulullah justru melakukan teror, menebar permusuhan, dan menyebarkan kebencian. Rasulullah sangat menyukai musyawarah untuk menghindari sikap otoriter, lalu mengapa orang-orang itu memaksakan pendapat dan menolak perbedaan? 

Intoleransi membuat kehidupan beragama diliputi rasa takut dan saling curiga. Pada saat bersamaan pemahaman agama dimanipulasi dengan slogan propaganda untuk kepentingan yang sebenarnya jauh dari makna dan ajaran Islam. Orang-orang dari golongan demikian sesungguhnya telah mengotori Islam.
Ngaji Toleransi (dok. pri).

Ngaji Toleransi (dok. pri).

Ngaji Toleransi (dok. pri).
Renungan di atas didapat dari 176 halaman buku “Ngaji Toleransi” yang ditulis oleh Ahmad Syarif Yahya. Pangkal ceritanya adalah kehidupan masyarakat Desa Kaloran, sebuah desa kecil di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, yang juga merupakan kampung halaman sang penulis.
Ngaji Toleransi (dok. pri).

Kehidupan bersama di Kaloran yang dihuni pemeluk Islam, Kristen, Katolik, dan Budha memancarkan kerukunan yang kuat. Di berbagai dusun di desa ini banyak keluarga yang anggota-anggotanya berlainan agama. Kerukunan di Kaloran juga terlihat dari berbagai aktivitas sosial yang dijalankan bersama-sama antara umat muslim dan nonmuslim. Saat Idulfitri semua warga Kaloran apapun agamanya bersilaturahmi dan membuka rumahnya serta menyediakan hidangan lebaran.  Tokoh dan pemuka agama Islam pun bersikap terbuka dengan tetangganya yang berlainan agama. Salah satu contohnya melayat ke rumah warga nonmuslim yang meninggal.
Ngaji Toleransi (dok. pri).

Buku ini menarik karena menggabungkan dua pendekatan. Pertama, jalur akar rumput yakni kehidupan riil masyarakat desa yang pluralis. Pendekatan kedua adalah pengalaman dan wawasan penulisnya yang merupakan pengajar pondok pesantren dan pernah menjadi santri di pondok pesantren asuhan ulama kharismatik KH. Maemun Zubair. Lewat dua pendekatan tersebut kehidupan masyarakat Desa Kaloran dengan dinamika yang mengiringinya diangkat sebagai refleksi universal untuk memahami toleransi dan membedah akar intoleransi. 
Ngaji Toleransi (dok. pri).
Menurut Ahmad lemahnya toleransi terhadap keberagaman, bersamaan dengan redupnya kearifan yang semestinya terpancar dari kaum muslim, salah satunya disebabkan karena pemahaman agama Islam secara dangkal. Kegaduhan agama yang memancing gesekan di masyarakat sering ditimbulkan karena pemuka agamanya kurang menguasai disiplin ilmu sehingga dakwah yang disampaikan cenderung kaku dan menampilkan sikap yang menentang kelompok lain. 

Selengkapnya klik DI SINI.

Sabtu, 17 Februari 2018

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan


Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut. 
Milo Cube (dok. pri).

Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000. 

Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram. 
Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri).

"Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri).
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.

Dalam benak dan angan saya terbayang kenikmatan Milo Cube seperti ramainya anak zaman now menggandrunginya. Maka saya pun memungut dua cube untuk bisa merasakannya. Sedetik menyentuh lidah terlacak rasa khas Milo. Tapi biasa saja dan cuma sebentar. Setelah itu jejak rasanya seolah tak lagi berkesan. 

Ketika saya menelannya sekotak lagi dengan harapan ada lonjakan rasa, hasilnya tetap sama. Hanya sedetik sensasi rasa yang biasa itu. Selanjutnya saya tak paham lagi Milo Cube ini.
Tak istimewa (dok. pri).
Saya juga mencoba melarutkannya untuk membuat minuman Milo hangat. Untuk secangkir dibutuhkan sedikitnya 5 cube agar kepekatannya pas. Tapi rupanya rasa yang dihasilkan juga tak senikmat dengan bubuk Milo reguler yang biasa dijual selama ini. Gula juga perlu ditambahkan karena Milo Cube ini rasanya tidak menonjol alias tawar.

Jadi di mana spesialnya Milo kekinian ini? Jika ada yang merasa Milo Cube sangat nikmat tolong beri tahu saya. 

Rasanya saya telah keliru mengikuti tren kekinian Milo Cube ini. Atau mungkin saja juga terperdaya oleh para buzzer  yang telah mengiklankan Milo Cube ini dengan sepenuh hati. 
Lebih baik simpan uang anda daripada untuk membeli Milo Cube ini (dok. pri).

Membandingkan dengan kenikmatan dan rasanya yang tidak jelas, harga “Milo Kotak” ini cenderung “lebay”. Perlu digarisbawahi bahwa harga Milo Cube ini hampir setara dengan dua kantong Milo bubuk reguler yang lebih nikmat. Bahkan harga album 25 Tahun Cerita Cinta KAHITNA yang berisi dua keping CD eksklusif harganya masih jauh lebih murah dari Milo Cube. 

Senin, 12 Februari 2018

Berlimpah Buah di Desa Pangu

Sore sudah menua saat saya tiba di Desa Pangu di Kecamatan Ratahan Timur, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Di tepi jalan raya desa saya berhenti untuk singgah di  kios buah milik Yance. Selain Yance di sepanjang jalan yang diapit perbukitan juga ada beberapa penjual buah lainnya. Mereka berjualan di lapak-lapak semipermanen maupun kios-kios yang menyatu dengan rumah tempat tinggal.

Manggis dari Desa Pangu, Kecamatan Ratahan Timur, Minahasa Tenggara (dok. pri).
“Buah-buahan di sini melimpah. Apalagi salak, kalau sedang panen mau berapa banyak pun ada”, kata Yance, Salak memang banyak dihasilkan di Desa Pangu. Banyak warga di desa tersebut yang memiliki kebun salak dengan luas bervariasi. Saat musim panen setiap hektar kebun salak bisa menghasilkan sekitar 600–1000 kg buah salak. Panen biasa dilakukan dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan siang.

Yance mengaku saat panen tiba ia bisa mendapat salak hingga 5 ton dari petani atau pemilik kebun hanya dalam satu kali pengumpulan. “Saya buka dari pagi sampai dini hari karena panen banyak”, ucapnya menggambarkan betapa melimpahnya hasil panen salak di desa tersebut. 

Yance, pemilik usaha kios buah sekaligus pemasok buah-buahan ke daerah lain (dok. pri).

Hasil panen salak dari kebun warga dan petani di Desa Pangu dikumpulkan di tempat Yance (dok. pri).
Dari kebun, para petani dan pemilik kebun umumnya menghantarkan hasil panen  ke tempat Yance dengan menggunakan sepeda motor. Tapi ada juga yang menggunakan mobil bak terbuka jika jumlahnya cukup banyak. Setelah tiba salak langsung ditimbang untuk menentukan harga yang akan dibayarkan kepada petani.

Salak Pangu cukup terkenal dan telah dipasarkan hingga ke Gorontalo dan Ternate. Salak Pangu yang termasuk varietas amboinensis (Salacca zalacca var. amboinensis) memiliki  cita rasa yang istimewa. Rasa manis dan asam bercampur dalam daging buahnya yang putih, tebal, dan renyah. Tumbuh di daerah berhawa sejuk membuat salak pangu terasa segar dan memiliki sensasi dingin ketika digigit.

Selain salak, kebun-kebun di Desa Pangu juga menghasilkan manggis, langsab, rambutan, alpukat, dan durian. Kondisi geografis Desa Pangu telah memberikan berkah karena cocok ditanami berbagai macam buah-buahan. Suhu, kelembaban, serta kandungan unsur hara di dalam tanahnya tidak hanya menyuburkan setiap tanaman yang tumbuh di atasnya, tetapi juga membuat buah yang dihasilkan berkualitas dan memiliki cita rasa yang nikmat. Buah manggis misalnya, meski berukuran tidak terlalu besar, tapi daging buahnya berwarna putih bersih, manis, dan harum. 


Alpukat dari kebun warga di Desa Pangu (dok. pri).

Durian yang legit dari Desa Pangu (dok. pri).

Manggis yang baru dipetik dari kebun warga di Desa Pangu (dok. pri).

Oleh karena kios milik Yance menjadi tempat penjualan sekaligus pengumpulan maka pembeli bisa memilih langsung buah-buahan segar dari keranjang petani yang baru tiba atau sedang disortir. Yance pun mempersilakan calon pembeli mencicipi buah-buahan itu lebih dahulu sebelum memutuskan akan membeli atau tidak.

Harga buah-buahan di Desa Pangu, terutama di kios milik Yance cukup terjangkau. Sebagai contoh Salak Pangu kualitas terbaik dihargai Rp8.000 per kilogram dan yang termurah adalah Rp5.000 per kilogram. Harga tersebut bisa lebih murah jika membeli dalam jumlah banyak. Para pedagang pasar yang mengambil salak di tempat Yance untuk dijual lagi di pasar juga akan mendapat harga lebih murah. Contoh lainnya, saat musim durian dan hasilnya melimpah penggemar durian bisa merasakan legit dan manisnya durian dari Desa Pangu dengan harga Rp10.000-35.000 per buah tergantung ukurannya.
Salak Pangu yang manis asam (dok. pri).

Tanda buah Salak Pangu (dok. pri).
Selain menjual buah di kios, Yance juga memasok buah-buahan ke daerah lain. Saat musim panen Yance dibantu beberapa karyawannya tak henti menerima buah-buahan dari kebun warga. Dari tempat Yance, buah-buahan itu kemudian menjelajah sampai ke daerah dan provinsi lainnya. 

Rabu, 07 Februari 2018

Romantisme KAHITNA dan Dedek-dedek SMA

Malam Minggu, 3 Februari 2018, Yogyakarta terbungkus hawa dingin usai diguyur hujan lebat siang harinya. Saat itu air seperti ditumpahkan secara serempak dari wadahnya di langit. 

Carlo, Mario, Hedi sebagai juru bicara KAHITNA (dok. pri).
Namun, dingin di luar itu segera diganti dengan “kehangatan” di dalam Auditorium Driyarkara, Universitas Sanata Dharma. Di sana panggung pentas seni (pensi) “Glowin9” pelajar SMA 9 Yogyakarta digelar. Bintang utamanya KAHITNA yang datang membawa cinta.

Kursi-kursi di ruangan auditorium berkapasitas 1200 tempat duduk itu pun nyaris semuanya terisi. Demikian juga dengan tambahan deret kursi di balkon. Saya katakan nyaris karena meski tiket terjual habis, tapi setidaknya ada satu orang yang semestinya datang akhirnya tak jadi menonton. Kursi D10 di samping saya kosong dari awal hingga akhir.
***
KAHITNA yang naik panggung setelah Jikustik mengawali penampilannya dengan Takkan Terganti yang menyentuh. Lagu ini jarang dihadirkan sebagai pembuka. KAHITNA lebih sering membawakannya dalam pertengahan lintasan pertunjukkan. Tapi barangkali karena malam itu panggung “Glowin9" sudah dihentak lebih dulu oleh Jikustik, maka Takkan Terganti dilantunkan lebih dini untuk menuntun penonton menata dan menyiapkan lagi hati serta segenap indera mereka. 

Terbukti memang usai Takkan Terganti para penonton langsung melebur dalam nada-nada KAHITNA. Semua ikut bernyanyi pada setiap lagu yang dibawakan berikutnya: Tentang Diriku, Andai Dia Tahu, Cerita Cinta, Soulmate, Katakan Saja, Rahasia Cinta, Tak Sebebas Merpati, Setahun Kemarin, Mantan Terindah, dan Cantik. Semua ringan mengangkat tangan serta riang melanjutkan lirik-lirik lagu ketika para vokalis KAHITNA melempar mic. 


KAHITNA! (dok. pri).

KAHITNA dan seorang penonton di panggung "Glowin9" (dok. pri).

Mario di hadapan Dedek-dedek SMA (dok. pri)
Penonton yang sebagian adalah murid SMA itu berulangkali bersorak. Mereka pula yang kencang berteriak tatkala Hedi Yunus, Carlo Saba, dan Mario turun menjelajah kursi penonton lalu mengajak seorang wanita untuk dihadiahi pelukan diiringi lagu Tak Sebebas Merpati. Lalu saat tiba di ujung lagu Cantik yang menutup pensi mereka meminta lebih. Sayangnya ini bukan konser atau show tunggal KAHITNA, jadi tak ada perpanjangan waktu dan tambahan lagu.
***
Ekspresi penonton saat KAHITNA tampil di pentas seni "Glowin9" SMA 9 Yogyakarta (sumber: @kahitna)
Penonton malam itu sebenarnya beragam, tidak hanya anak-anak sekolah. Tapi tetap saja rasanya mengejutkan  sekaligus menyenangkan menyaksikan  murid-murid SMA yang fasih serta lantang menyanyikan Cerita Cinta. Pasalnya KAHITNA yang berdiri sejak 24 Juni 1986 ini beranggotakan bapak-bapak. Walau lagu-lagu cinta KAHITNA tak mengenal umur, tapi tetap saja ada beda masa yang mencolok antara band bapak-bapak ini dengan generasi “milenial muda” yang berusia 15-18 tahun.

Dedek-dedek SMA ini adalah generasi 2000-an yang hampir bisa dipastikan tidak memiliki banyak pengalaman langsung tentang KAHITNA, terutama dengan lagu-lagu KAHITNA malam itu yang sebagian besar diambil dari album lama.

Relasi yang paling mungkin menautkan generasi 2000-an dengan lantunan merdu Hedi Yunus, Carlo Saba, dan Mario adalah para orang tua mereka yang dulunya penggemar KAHITNA. Selebihnya adalah fakta bahwa saat KAHITNA menghadirkan Mantan Terindah pada 2010, anak-anak SMA itu masih duduk di bangku SD. Kita tentu tidak bisa berimajinasi bahwa saat sedang di kantin SD mereka istirahat sambil menyenandungkan: "mau dikatakan apalagi kita tak akan pernah satu...". Kemudian saat mereka tumbuh besar, Mantan Terindah yang pertama kali sampai di telinga mereka barangkali juga lewat suara Raisa.

Lalu bagaimana relasi pengalaman mereka dengan Cerita Cinta, Cantik, dan Andai Dia Tahun yang kehadirannya jauh mendahului kelahiran anak-anak generasi 2000-an?


Pada akhirnya relasi KAHITNA dengan penggemarnya tidak selalu perlu dijelaskan berdasarkan rentang usia. Kenyataannya ada rentangan masa yang lebar antara KAHITNA dengan lapis penggemarnya. Tapi senjang waktu itu telah memungkinkan baik KAHITNA maupun generasi 2000-an untuk saling beradaptasi dan menerima. Itulah mengapa KAHITNA kemudian disayangi juga oleh generasi 2000-an. 

Tampaknya pula bahwa romantisme tidak hanya melingkupi  para penggemar yang sempat bersinggungan erat dengan masa kelampauan KAHITNA. Para generasi 2000-an memiliki bentuk romantisme dan keriaan sendiri yang menautkan diri mereka dengan KAHITNA. Jadilah Dedek-dedek SMA masa kini juga  fasih dan lantang bernyanyi, “biar cinta bergelora di dada, biar cinta memadukan kita, HUO HUO HUO!”

Sabtu, 13 Januari 2018

Kisah Nestapa Membeli Buku di Gramedia.com

Sebagai penikmat buku saya selalu menyambut gembira setiap kali datang kesempatan mendapatkan buku bermutu. Oleh karena itu, saat Gramedia.com membuka kran penjualan buku dengan diskon 50% dalam rangka Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) pada 12 Desember 2017 lalu, tanpa banyak pertimbangan saya langsung mengikutinya. Apalagi, gairah dan mood membaca saya sedang bagus. Pada 2017 saja buku yang saya beli sekitar 70 buah di mana 55 di antaranya untuk saya baca sendiri sedangkan sisanya saya hadiahkan kepada keponakan, teman, dan juga disumbangkan. Jumlah buku yang saya beli dan saya baca pada 2017 tersebut melonjak drastis dibanding tahun 2016 di mana saya hanya membaca sekitar 5 buku saja.


Menyadari akan berlomba-lomba dengan banyak penikmat buku lainnya yang mengincar Harbolnas Gramedia.com, maka sejak 11 Desember saya sudah mulai membuat daftar buku yang ingin dibeli dan memeriksa ketersediaanya di halaman Gramedia.com. 

Kemudian pagi hari 12 Desember setelah subuh saya segera melakukan pemesanan melalui Gramedia.com. Dari sederet buku yang ingin dibeli akhirnya hanya 10 judul yang terpilih. 

Singkat cerita akhirnya saya berhasil memesan 10 judul buku, yaitu: Kiai Kantong Bolong, Ngaji Toleransi, Empat Pengawal Uang Rakyat, Gus Dur Untold Stories, Sisi Lain Istana 3-Sarung Jokowi dan Wak Wak Wak, Buku Saku Tempo: Hatta, Buku Saku Tempo: Wiji Thukul, Lukisan Kaligrafi (Edisi Baru), Asal-Usul & Sejarah Orang Jawa, dan Tanah Air yang Hilang. 


Singkat cerita pesanan saya diterima oleh Gramedia.com dan pada hari itu juga statusnya disiapkan. Bayangan akan mendapatkan buku-buku bagus sebagai teman akhir tahun di depan mata. 

Namun, rupanya harapan tinggal harapan yang tak berujung kenyataan. Lewat seminggu belum ada tanda-tanda buku pesanan saya akan dikirimkan oleh Gramedia. Baru mendekati akhir Desember saya mendapatkan laporan bahwa buku saya akan dikirimkan dengan estimasi lama pengiriman hingga 7 hari. 

Sampai di sini mulai terasa nestapa itu. Apalagi saat mengetahui pesanan saya dikirimkan secara bertahap dalam 4 paket pengiriman yang berbeda. Pengiriman yang dilakukan pada akhir Desember itu baru untuk paket pertama dan hanya satu buku. Gramedia.com berdalih tindakan memecah pesanan dilakukan agar pembeli bisa segera mendapatkan bukunya. Tapi, diduga kuat tindakan itu ditempuh untuk meredakan ribuan protes dan keluhan yang mulai ditujukan ke Gramedia.com atas ketidakpastian penanganan Harbolnas. Belakangan terungkap bahwa Gramedia.com terpaksa mengambil buku dari beberapa suplier atau gudang  sehingga paket dikirim dari tempat yang berbeda-beda. Jelas ini adalah buah dari kelalaian Gramedia.com sendiri yang sejak awal sudah terasa aneh karena mereka menerima pesanan Harbolnas berdasarkan siapa saja pembeli yang telah melunasi pembayarannya dalam tempo 2 jam sejak pemesanan dilakukan, bukan berdasarkan ketersediaan buku yang dipesan pembeli sejak awal.

Buku pertama itu akhirnya tiba saya terima pada 28 Desember 2017 atau tempat 1 minggu setelah mendapatkan resi pengiriman. Lalu bagaiamana dengan 9 buku lainnya?

Di sinilah puncak ketidakpastian penanganan Harbolnas Gramedia.com. Hingga tahun berganti memasuki Januari 2018 entah sudah berapa kali saya menghubungi kepada Gramedia.com untuk meminta kejelasan pengiriman buku lainnya. Tapi pertanyaan melalui email, web chat, instagram, dan twitter, tidak membuahkan kepastian. Belakangan terungkap bahwa kekacauan Harbolnas  Gramedia.com ikut disebabkan oleh buruknya layanan antar ARKXpress yang menjadi mitra tunggal Gramedia.com. Nama ARKXpress bahkan baru pertama kali saya dengar. Jika tidak mengikuti Harbolnas Gramedia.com barangkali saya tidak akan pernah tahu ada jasa ekspidisi dan logistik bernama ARKXpress di Indonesia.

Bayangkan saja saya mendapatkan resi pengiriman tapi selama 2 minggu  pengiriman tidak pernah dilakukan oleh ARKXpress. Bukan itu saja, ARKXpress juga terkesan tidak serius menanggapi keluhan pembeli Harbolnas Gramedia.com. Baru setelah saya menayangkan surat pembaca di media, paket pesanan buku saya dikirimkan ke alamat pada keesokan harinya. Itu pun ada paket yang tidak memuat nama peneriman, hanya bertuliskan kode pesanan dan barcode sehingga beresiko tercecer selama pengiriman.

Sampai di sini perasaan saya mulai lega. Tapi saat memeriksa isi bungkusannya, ternyata ada satu buku yang belum dikirimkan. Gramedia.com justru mengirimkan 2 buku berjudul sama yang hanya saya pesan 1 buah. Tak ingin menunggu lebih lama saya langsung mengirimkan kembali buku itu ke Gramedia.com disertai ultimatum dan permintaan agar Gramedia.com segera mengirimkan buku saya yang sesuai dengan syarat tidak menggunakan jasa ARKXpress. Saya sendiri "memulangkan" buku kepada Gramedia.com dengan layanan Ekspress Pos Indonesia. Tak mengapa saya mengeluarkan ongkos kirim sendiri meski sebenarnya itu menjadi tanggung jawab Gramedia.com.

Tak disangka Gramedia.com memenuhi permintaan saya dengan segera mengirimkannya menggunakan jasa JNE. Barangkali Gramedia.com menyadari bahwa lambannya  mereka dalam menangangi Harbolnas berpotensi menimbulkan gelombang kekecewaan dan protes yang lebih besar lagi jika pengiriman tidak segera dilakukan. Apalagi kolom instagram mereka sudah dijejali lebih dari 7000 komentar yang mayoritas berupa keluhan dan kemarahan para pembeli buku. Kabar buruknya penanganan Harbolnas Gramedia.com juga sudah tersiar di media  seperti CNN Indonesia.



11 Januari 2018 atau nyaris 1 bulan sejak pemesanan saya lakukan, akhirnya semua buku dari Harbolnas Gramedia.com saya terima. Ingin saya mengapresiasi Gramedia.com karena bagaiamanapun juga mereka telah memenuhi kewajibannya meski saya harus lebih dulu menempuh jalan yang agak bernestapa. Sejujurnya kejadian ini telah membuat saya ragu untuk berbelanja lagi di Gramedia.com. Saya akan melihat perkembangannya dulu sejauh mana Gramedia.com membuktikan mampu memberikan pelayanan belanja online yang lebih baik.

Cerita Populer

BERANDA